MEDAN — Dua jalur utama pasokan listrik di Sumatera Utara lumpuh setelah belasan tower roboh dalam satu pekan terakhir. Di jalur SUTET 275 kV Galang–Simangkuk, tiga tower ambruk dan dua lainnya mengalami deformasi. Sementara itu, di jalur SUTT 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan, enam tower roboh dan satu bengkok. Insiden ini memicu pemadaman bergilir yang meluas hingga ke Kota Medan dan wilayah penyangganya.
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa minggu setelah blackout besar yang melumpuhkan hampir seluruh Pulau Sumatera. Fakta bahwa kerusakan terjadi berulang dalam rentang waktu singkat membuat publik dan pegiat energi mempertanyakan kualitas infrastruktur strategis nasional.
CEO IESR Fabby Tumiwa menegaskan bahwa cuaca buruk tidak bisa dijadikan kambing hitam tunggal. "Tower transmisi seyogianya dirancang untuk menghadapi hujan lebat, petir, dan angin kencang yang lazim terjadi di Indonesia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).
Yang menjadi pertanyaan kritis, kata Fabby, adalah mengapa infrastruktur yang relatif baru bisa mengalami kerusakan beruntun saat menghadapi kondisi cuaca yang seharusnya sudah diperhitungkan sejak tahap desain. Jalur SUTET 275 kV Galang–Simangkuk misalnya, baru beroperasi pada Juni 2019 dan merupakan bagian dari proyek strategis Tol Listrik Sumatra.
IESR mendesak Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian ESDM untuk segera turun tangan. Investigasi tidak boleh berhenti pada pencarian penyebab langsung di lapangan. "Harus ditelusuri mengapa sistem gagal merespons kondisi yang seharusnya sudah diperhitungkan sejak tahap desain awal," tegas Fabby.
Lembaga tersebut juga mendorong adanya investigasi independen untuk mengidentifikasi akar masalah struktural. Termasuk menguji secara transparan apakah terdapat kesalahan rancangan (design flaw), penurunan kualitas material, atau kelemahan eksekusi dalam proyek transmisi strategis tersebut.
IESR membandingkan kasus ini dengan pemadaman besar yang melanda Spanyol pada 2025. Saat itu, operator sistem, regulator, dan pemerintah Spanyol menjalankan pemeriksaan menyeluruh untuk mengidentifikasi faktor pemicu, faktor yang memperparah gangguan, serta kelemahan sistemik yang membiarkan insiden lokal berkembang menjadi krisis nasional.
"Investigasi perlu mencari tahu mengapa sistem gagal merespons gangguan tersebut dan bagaimana mencegah hal yang sama terjadi lagi," ujar Fabby. Tanpa evaluasi total terhadap standar desain dan pemeliharaan jaringan transmisi, IESR memperingatkan bahwa insiden serupa berpotensi terulang di wilayah lain Indonesia yang memiliki kerentanan cuaca ekstrem serupa.