MEDAN — Fenomena hujan konvektif yang belakangan kerap mengguyur sejumlah wilayah di Sumatera Utara bukanlah peristiwa tanpa sebab. BBMKG Wilayah I Medan membeberkan faktor pemicu utama di balik pola cuaca ini.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah I Medan, Nensy Nindy Tambunan, menjelaskan bahwa rangkaian kejadian ini bermula dari suhu udara yang menyengat di siang hari. "Panas yang ekstrem di permukaan menyebabkan proses penguapan yang masif," ujarnya, Senin (8/6).
Uap air yang naik ke atmosfer akibat penguapan tersebut kemudian mengalami kondensasi. Proses ini membentuk gumpalan awan yang dikenal sebagai awan konvektif. Awan-awan inilah yang akhirnya menjadi sumber utama hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada sore hingga malam hari.
Fenomena ini menjadi pola yang khas di wilayah tropis seperti Sumatera Utara, terutama saat memasuki musim pancaroba atau kemarau dengan pemanasan permukaan yang maksimal. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan mendadak yang bisa disertai angin kencang.
Hujan konvektif yang turun dalam durasi singkat namun deras kerap menyebabkan genangan di sejumlah titik rawan banjir di Kota Medan dan sekitarnya. Pengendara kendaraan roda dua diimbau untuk berhati-hati saat melintasi jalanan yang licin akibat hujan mendadak.
Meski demikian, hujan jenis ini juga membawa manfaat. Penguapan yang tinggi di siang hari dan hujan di sore hari membantu menstabilkan suhu udara yang sebelumnya mencapai titik puncak. Kondisi ini secara alami mendinginkan atmosfer dan permukaan tanah setelah terik matahari.
BBMKG Wilayah I Medan mengingatkan warga untuk selalu memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi. "Kami terus memperbarui data agar masyarakat bisa mengantisipasi perubahan cuaca yang cepat," kata Nensy.
Fenomena ini diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan selama kondisi cuaca panas di siang hari masih berlangsung. Masyarakat diharapkan tidak panik dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa dengan kewaspadaan ekstra saat sore hari.