SUMATERA UTARA — Efisiensi korporasi yang dijalankan Pupuk Indonesia bersama Danantara Indonesia (BPI Danantara) mulai membuahkan hasil. Pendapatan perusahaan naik 51 persen menjadi Rp59,67 triliun, dengan EBITDA mencapai Rp14,28 triliun atau tumbuh 140 persen secara tahunan.
Namun, Dekan Fakultas Pertanian IPB University sekaligus Ketua Gerakan Petani Nusantara (GPN), Suryo Wiyono, menegaskan bahwa transformasi badan usaha milik negara di sektor pangan punya ukuran keberhasilan yang berbeda dengan korporasi biasa. Menurut dia, yang utama adalah bagaimana sarana produksi tetap tersedia dan terjangkau oleh petani.
"Pupuk itu sarana produksi yang utama. Bagi pertanian, pupuk harus mencukupi agar produksi tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura terjaga. Bagi petani, yang penting pupuk tersedia dan terjangkau secara harga," kata Suryo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Suryo menjelaskan, komponen pupuk bisa menyumbang sekitar 30 persen atau lebih dari total biaya produksi padi, tergantung wilayah. Karena itu, efisiensi yang dilakukan korporasi jangan sampai mengganggu fungsi utama perusahaan dalam mendukung pertanian nasional.
"Yang penting bukan hanya bagaimana perusahaan menjadi lebih ramping, tetapi bagaimana fungsi untuk mendukung pertanian dan mendukung petani tidak terganggu," ujarnya.
Data penyaluran menunjukkan perbaikan akses petani terhadap pupuk. Volume pupuk subsidi naik dari 6,18 juta ton pada 2023 menjadi 8,11 juta ton pada 2025. Di saat yang sama, HET pupuk justru turun 20 persen, meringankan beban ongkos produksi petani di tengah fluktuasi harga komoditas.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan pihaknya tidak berhenti pada penyaluran subsidi. Perusahaan tengah mengembangkan lini bisnis non-subsidi dan non-pupuk, seperti metanol dan clean ammonia, sebagai benteng menghadapi gejolak harga bahan baku global.
Selain itu, tujuh pabrik milik perusahaan akan direvitalisasi dalam lima tahun ke depan. Digitalisasi penebusan pupuk melalui aplikasi i-Pubers dan Command Center juga terus disempurnakan untuk memangkas antrean dan mempercepat distribusi hingga ke tingkat kelompok tani.
Rahmad menegaskan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak lagi diukur dari rekor laba tahunan. Menurut dia, yang lebih penting adalah ketahanan korporasi dalam menghadapi perubahan kondisi global serta manfaat yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput.
"Keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah dan memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani," kata Rahmad.
Dengan kombinasi penurunan harga, perluasan volume subsidi, dan diversifikasi bisnis, Pupuk Indonesia mencoba membuktikan bahwa efisiensi BUMN tidak harus berjalan berbanding terbalik dengan kepentingan petani. Jika konsisten, model ini bisa menjadi preseden bagi transformasi BUMN pangan lainnya di masa mendatang.