Pencarian

BMKG: 1.637 Titik di Indonesia Alami Kekeringan Ekstrem Imbas El Nino 2026

Selasa, 22 September 2026 • 12:33:01 WIB
BMKG: 1.637 Titik di Indonesia Alami Kekeringan Ekstrem Imbas El Nino 2026
BMKG mencatat 1.637 titik pengamatan di 25 provinsi mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari akibat El Nino 2026.

SUMATERA UTARA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.637 titik pengamatan di 25 provinsi mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari akibat fenomena El Nino 2026. Kondisi terparah terjadi di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan 131 hari tanpa hujan atau lebih dari empat bulan. BMKG memperingatkan musim hujan akan datang terlambat dan berlangsung lebih singkat di sebagian besar wilayah Indonesia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa El Nino secara historis membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang, terutama di wilayah selatan ekuator. Temuan itu disampaikan dalam konferensi pers daring, Selasa (22/9).

Hasil monitoring perkembangan musim menunjukkan 556 zona musim (ZOM) atau mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia saat ini berada dalam periode musim kemarau.

Sebaran Titik Kekeringan di 25 Provinsi

Data analisis BMKG memperlihatkan 1.637 titik pengamatan melaporkan hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Titik-titik itu tersebar di 25 provinsi.

Selain kelompok HTH ekstrem, BMKG mencatat 384 titik mengalami HTH antara 21-30 hari dan 872 titik mengalami HTH antara 31-60 hari. HTH terpanjang tercatat di Bantul dengan durasi 131 hari.

Dampak El Nino pada Zona Musim Tipe Hujan Sepanjang Tahun

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, mengungkapkan El Nino 2026 juga memicu periode kemarau di sejumlah ZOM yang biasanya bertipe hujan sepanjang tahun.

"Bahkan El Niño 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun," kata Fachri.

BMKG mencatat 113 ZOM atau 33,68 persen wilayah Indonesia bertipe satu musim. Rinciannya, 3 ZOM mengalami musim kemarau sepanjang tahun dan 110 ZOM mengalami musim hujan sepanjang tahun.

Monitoring iklim hingga awal September pada wilayah tipe hujan sepanjang tahun menunjukkan 98 ZOM mengalami periode musim kemarau akibat anomali hujan yang lebih rendah. Sementara 12 ZOM masih berada dalam kondisi klimatologisnya, yakni tidak mengalami periode kemarau.

El Nino Sangat Kuat dan IOD Positif

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus mencapai +2,83. Nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63, mengindikasikan El Nino sangat kuat.

Di Samudra Hindia, indeks IOD bulan Agustus tercatat +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," terang Faisal.

Implikasi bagi Sektor Pertanian dan Pengelolaan Air

Perpanjangan musim kemarau berdampak langsung pada jadwal tanam petani, ketersediaan air irigasi, dan risiko kebakaran lahan di wilayah terdampak. BMKG mendorong pemerintah daerah dan pelaku usaha pertanian menyesuaikan kalender tanam dengan proyeksi mundurnya awal musim hujan.

Pemantauan berkelanjutan terhadap indeks ENSO dan IOD akan menentukan apakah kondisi kekeringan berlanjut hingga kuartal pertama tahun depan atau mereda seiring melemahnya El Nino.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks