SUMATERA UTARA — Seri perdana kolam pendek ini digelar di Jakarta, Kamis (4/6), dengan dominasi atlet tuan rumah. Dari total peserta, 200 perenang berasal dari 19 klub DKI Jakarta. Ade Jona menilai turnamen ini bukan sekadar kompetisi rutin, melainkan panggung deteksi bakat usia muda.
"Semua atlet turun di sini ada sekitar tiga ratus atlet. Yang pasti kita di sini mencari bakat, kita lihat ini bukan hanya sekedar kolam renang," ujar Ade Jona di Jakarta.
Ia menambahkan bahwa seluruh program pelatda DKI Jakarta tengah diselaraskan dengan program pelatnas. Langkah ini diambil agar pembinaan berjenjang dari level daerah hingga nasional tidak terputus. Target akhirnya jelas: kualifikasi Olimpiade.
Menurut Ade Jona, Indonesia Short Course Emerging Series menjadi fase awal bagi atlet untuk membangun fondasi. "Ini mimpi para atlet-atlet kita ke depannya bagaimana agar mereka dapat bermimpi mengibarkan bendera Indonesia di dunia nantinya," katanya.
Turnamen ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program Menpora dan NOC Indonesia. Ade Jona yang juga calon Ketua BPP HIPMI 2026-2029, memastikan sinkronisasi antara agenda daerah dan nasional. "Ini semua harus align, kami akan coba sinkronisasikan agar juga bisa menciptakan pembinaan berjenjang yang berkelanjutan menuju Olimpiade," tegasnya.
Kolam renang berukuran 25 meter atau short course memang kerap digunakan sebagai ajang pemanasan internasional. Namun bagi Federasi Akuatik DKI, seri ini adalah laboratorium sesungguhnya untuk menguji mental dan teknik atlet muda. Dari 310 peserta yang turun, sebagian besar adalah perenang kelompok umur yang belum pernah tampil di level nasional.
Ade Jona berharap ajang serupa bisa digelar secara konsisten setiap tahun. "Kami berharap seluruh atlet dapat memberikan penampilan terbaik, di mana saat ini Akuatik DKI Jakarta juga melakukan pembinaan berjenjang," pungkasnya.