SUMATERA UTARA — Liga utama Inggris mengumumkan sejumlah perubahan aturan wasit yang disepakati dalam Rapat Umum Tahunan (AGM) awal bulan ini. Langkah ini merupakan hasil konsultasi dengan kelompok penasihat peningkatan permainan (game improvement advisory group). Fokus utama perubahan ada pada tiga area krusial: pelanggaran tarik rambut, grappling di area kotak penalti, dan taktik "timeout" kiper.
Tarik Rambut: Bukan Lagi Otomatis Kartu Merah
Musim lalu, tiga pemain diusir wasit setelah VAR meninjau ulang insiden tarik rambut: Michael Keane (Everton), Lisandro Martinez (Manchester United), dan Dan Ballard (Sunderland). Bahkan bek Stockport County, Josh Dacres-Cogley, mendapat kartu merah di final play-off League One untuk pelanggaran serupa.
Manajer Manchester United, Michael Carrick, menyebut keputusan terhadap Martinez sebagai "salah satu keputusan terburuk yang pernah saya lihat" meski banding untuk membatalkan larangan tiga pertandingan ditolak. Sementara bos Everton, David Moyes, mengkritik hukuman Keane dengan alasan pemainnya dihukum "tanpa alasan sama sekali".
Mulai musim depan, wasit tidak akan langsung mengeluarkan kartu merah setiap kali melihat tangan pemain menyentuh rambut lawan. Penekanan baru akan diberikan pada dua aspek: tingkat kekuatan (force) dan niat (intention). Pelanggaran baru dianggap layak kartu merah jika merupakan "tindakan yang jelas dan disengaja (clear and deliberate action)" dengan "kekuatan berlebihan dan/atau kebrutalan (excessive force and/or brutality)".
Dengan panduan baru ini, Keane kemungkinan tetap diusir karena menarik dan menahan rambut Tolu Arokodare (Wolves) dinilai sebagai kekerasan. Namun, kasus Ballard dan Dacres-Cogley kemungkinan hanya dianggap pelanggaran kartu kuning, meski VAR tidak bisa turun tangan untuk kartu kuning. Kartu merah Martinez masuk kategori abu-abu yang terbuka untuk interpretasi.
Grabbing Bola Mati Jadi Sorotan Utama
Kekacauan di area kotak penalti saat tendangan sudut dan bola mati menjadi perhatian serius. Pertandingan antara Everton dan Manchester United pada Maret lalu menjadi contoh nyata: pemain saling mendorong, memegang, dan bergulat tanpa intervensi wasit. "Anda mendapat perasaan sekarang bahwa wasit benar-benar tidak mau terlibat dalam semua ini," keluh Moyes saat itu. "Sangat buruk mereka tidak mencoba menanganinya."
Musim depan, wasit akan diminta lebih memperhatikan "tindakan memegang yang memiliki dampak material yang jelas (holding actions that have clear material impact)". Ini termasuk pemain yang "secara jelas hanya fokus pada lawan dan melakukan tindakan memegang (clearly only focused on opponents and making a holding action)". Pelanggaran terhadap kiper juga akan dihukum jika tidak ada niat untuk memainkan atau merebut bola.
Taktik Timeout Kiper: 85% Responden Setuju Dihapus
Masalah lain yang akan diberantas adalah taktik "tactical timeout" yang dilakukan kiper. Manajer sering memanfaatkan momen ini untuk memberikan instruksi baru atau memutus momentum lawan. Kiper berpura-pura cedera, duduk di lapangan, dan memanggil fisioterapis sementara pemain lain berlari ke area teknis untuk menerima instruksi tim.
Survei tahunan Premier League menunjukkan 85% responden menganggap praktik ini sebagai masalah. Sebagai solusi, aturan baru akan diterapkan: jika kiper menunda restart tendangan gawang, wasit bisa memulai hitungan mundur lima detik. Jika waktu habis, tim lawang diberikan tendangan sudut.
Masalah pemborosan waktu oleh kiper secara umum juga menjadi keluhan bagi 73% responden. Aturan baru ini diharapkan mempercepat tempo pertandingan dan mengurangi kecurangan waktu.
Survei Tahunan: Dukungan untuk VAR dan Transparansi
Hasil survei musim lalu juga mengungkapkan beberapa temuan menarik. 96% responden mendukung ambang batas tinggi untuk menghukum pelanggaran oleh wasit lapangan, sementara 65% mendukung ambang batas VAR saat ini. Dukungan untuk kelanjutan komunikasi terbuka dan transparan mencapai 85%, dan 68% mendukung siaran langsung audio dan rekaman tinjauan VAR.
Namun, hanya 43% yang mendukung perluasan kekuasaan VAR, dan 37% mendukung tinjauan VAR untuk tendangan sudut. Tema utama keluhan tentang VAR adalah lambatnya kecepatan pengambilan keputusan. Berdasarkan hasil ini, Premier League memutuskan untuk tidak mengadopsi perubahan lebih lanjut pada sistem VAR untuk saat ini.