MEDAN — Puluhan pohon peneduh di sepanjang Jalan Turi dan Air Bersih, Medan, dinilai sudah berada dalam fase sangat membahayakan. Pemerhati Sosial Kota Medan, M. Arif Tanjung, menyebut kondisi ini sudah darurat dan menuntut tindakan cepat dari Pemerintah Kota Medan.
"Pilihannya cuma dua: segera dipangkas dan ditebang total, atau mau tunggu korban jiwa berjatuhan dulu baru bertindak," ujar Arif, Selasa (28/7/2026).
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan mayoritas batang pohon di koridor dari Simpang Pelangi hingga Simpang Bahagia sudah keropos dan berongga di bagian dalam. Selain itu, sistem perakaran pohon juga rusak karena terhimpit beton drainase, membuat pohon semakin tidak stabil.
Arif menegaskan bahwa penanganan setengah hati, seperti sekadar merapikan ranting kecil, tidak lagi relevan untuk kondisi saat ini. Yang dibutuhkan adalah pemangkasan ekstrem hingga penebangan total.
Ancaman ganda muncul dari cabang-cabang tinggi yang menjulur liar dan bersinggungan langsung dengan jaringan kabel listrik tegangan tinggi milik PLN. Gesekan antara ranting basah dan kabel berisolasi tipis sangat rawan memicu percikan api, terutama saat cuaca buruk.
"Ketika hujan turun, air menjadi media penghantar listrik. Dahan tinggi yang menempel di kabel bisa membuat aliran listrik merambat turun melalui batang pohon yang basah. Bayangkan pengendara yang berteduh di bawah pohon bisa tersetrum tanpa sadar," jelas Arif.
Jalan Turi dan Air Bersih setiap hari dipadati anak sekolah, mahasiswa, pedagang kaki lima, dan kendaraan umum. Arif menilai pembiaran terhadap kondisi ini sama saja dengan membiarkan potensi tragedi kecelakaan massal terjadi di tengah kota.
Ia mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan untuk segera berkoordinasi dengan PLN dan menurunkan tim melakukan eksekusi pemangkasan ekstrem. "Keselamatan warga Medan adalah hukum tertinggi. Jangan sampai ada nyawa melayang baru semua pihak saling lempar tanggung jawab," tutupnya.