SUMATERA UTARA — Penipuan asmara digital bukan modus baru, tapi metode eksekusinya kini berevolusi drastis. Sebuah studi kolaboratif dari Amrita Vishwa Vidyapeetham (India), Foscari University of Venice, University of Melbourne, dan Ben Gurion University of the Negev menguji seberapa efektif kecerdasan buatan dalam meniru proses grooming korban.
Peneliti menyusun skenario simulasi di mana subjek tidak mengetahui tujuan riset. Mereka dikira sedang mengobrol dengan manusia sungguhan, padahal separuh dari lawan bicara mereka adalah chatbot AI (ChatGPT, Claude, dan Gemini) dan separuhnya lagi adalah manusia.
Prosesnya meniru skema penipuan asmara klasik: membangun kepercayaan lewat percakapan panjang selama beberapa pekan, lalu diakhiri dengan ajakan mengunduh aplikasi atau mentransfer dana ke skema kripto palsu.
Data yang dirilis Wired menunjukkan performa chatbot melampaui manusia dalam dua metrik utama. Pertama, tingkat kepatuhan: 54 persen subjek bersedia mengunduh aplikasi setelah dirayu AI, sementara hanya 18 persen yang melakukannya setelah dirayu manusia. Kedua, skor kepercayaan subjektif: chatbot mendapat nilai kepercayaan yang secara signifikan lebih tinggi dari lawan bicara manusia.
Artinya, korban tidak hanya lebih mudah dibujuk oleh AI, tapi juga merasa lebih nyaman dan percaya selama berinteraksi dengan bot dibandingkan dengan manusia sungguhan.
Temuan paling mencemaskan dari riset ini adalah potensi penskalaan. Alih-alih mempekerjakan puluhan operator manusia di kompleks penipuan di Kamboja, Myanmar, atau Laos, pelaku kini bisa mengoperasikan ribuan chatbot secara simultan. Satu server bisa menjalankan percakapan dengan ribuan target dalam waktu bersamaan tanpa lelah.
Manusia hanya dibutuhkan di tahap akhir, saat korban sudah mau mentransfer uang, untuk membypass sistem keamanan yang melekat di platform AI.
Ketika Wired meminta tanggapan, OpenAI dan Google tidak merespons. Anthropic, pengembang Claude, mengeluarkan pernyataan resmi bahwa kebijakan perusahaan melarang penggunaan platform untuk penipuan dan peniruan identitas manusia. Anthropic juga mengklaim telah membangun pengaman teknis untuk mencegah penyalahgunaan Claude oleh pelaku kejahatan.
Pernyataan ini menunjukkan adanya celah antara kebijakan perusahaan dan implementasi di lapangan, mengingat chatbot mereka tetap lolos dalam simulasi riset tanpa terdeteksi sebagai bot oleh subjek.
Bagi pengguna Indonesia, temuan ini menjadi pengingat untuk semakin waspada terhadap profil terlalu sempurna di aplikasi kencan yang menolak bertemu langsung dengan alasan tugas luar negeri. Jika percakapan terasa terlalu mulus dan cepat akrab, ada kemungkinan lawan bicara Anda bukan manusia.