Pengendara Motor Pilih Pertalite meski Pertamax Turun, "Turun Kasta" Demi Hemat Rp 20.000

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:28:01 WIB
Pengendara motor memilih Pertalite di SPBU Minangkabau, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8/2026), meski harga Pertamax telah diturunkan.

SUMATERA UTARA — Keputusan PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga BBM non-subsidi per 1 Agustus 2026 tidak serta-merta mengubah kebiasaan konsumen di SPBU. Di SPBU Minangkabau, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8/2026), sejumlah pengendara motor justru mengaku makin nyaman dengan Pertalite setelah membandingkan selisih biaya pengisian tangki.

Selisih Rp 20.000 Lebih Berharga untuk Kebutuhan Lain

Wiwi (23), pengendara motor yang ditemui di lokasi, mengaku sudah berhenti menggunakan Pertamax sejak harga BBM non-subsidi pertama kali melonjak. Penurunan harga terbaru yang hanya Rp 300 per liter dianggapnya tidak signifikan.

"Pas awal naik udah enggak pakai lagi Pertamax. Udah lah, pakai Pertalite aja, turun kasta enggak apa-apa," ujar Wiwi.

Perhitungan sederhana justru lebih masuk akal bagi Tuti (29). Ia mengaku biaya untuk mengisi penuh tangki motornya kini membengkak hingga Rp 80.000 jika menggunakan Pertamax, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp 50.000 hingga Rp 60.000.

"Kan bedanya lumayan Rp 20.000-an, mendingan buat jajan atau makan seporsi," ungkap Tuti.

Mesin Lebih Cepat Kotor Dianggap Risiko yang Bisa Ditoleransi

Keputusan beralih ke RON 90 ini memang tidak lepas dari konsekuensi teknis. Tuti mengakui bahwa penggunaan Pertalite dalam jangka panjang berpotensi membuat mesin motor lebih cepat kotor akibat deposit karbon.

"Karena kalau Pertamax biasa turunnya masih Rp 300, ya, tetap Pertalite dulu aja lah, meski tahu bakal bikin mesin motor lebih cepat kotor," kata Tuti.

Meski demikian, pertimbangan ekonomi harian dinilai lebih mendesak dibandingkan biaya perawatan mesin yang sifatnya insidental. Fenomena ini menunjukkan bahwa elastisitas harga BBM nonsubsidi di segmen motor matik dan bebek masih sangat tinggi.

Konsumen Pertamax Turbo Justru Turun Satu Tingkat ke Pertamax

Penurunan harga Pertamax Turbo dari Rp 19.300 menjadi Rp 18.300 per liter pun tak luput dari perhitungan ulang konsumen. Feri (26) memilih berhenti menggunakan BBM beroktan 98 tersebut dan pindah ke Pertamax biasa.

"Saya beralih ke Pertamax biasa, berhenti dulu menggunakan Pertamax Turbo," ucap Feri.

Keputusan Feri terbilang menarik karena spesifikasi mesin motornya yang memiliki rasio kompresi tinggi seharusnya membutuhkan bahan bakar beroktan tinggi untuk performa optimal. Namun, ia menilai harga Pertamax Turbo masih terlalu mahal untuk digunakan sebagai konsumsi harian.

Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran perilaku konsumen otomotif roda dua di tengah tekanan daya beli. Alih-alih mengikuti anjuran pabrikan soal angka oktan, prioritas utama pengendara kini adalah efisiensi pengeluaran bulanan.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: megapolitan.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top