MEDAN — Laju inflasi di Sumatera Utara terus menunjukkan tren peningkatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 4,20 persen pada Juli 2026, naik signifikan dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang hanya 2,86 persen.
Statistisi Ahli Utama BPS Sumatera Utara, Misfaruddin, menyebut kenaikan harga terjadi di seluruh kelompok pengeluaran. Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat naik dari 108,90 pada Juli 2025 menjadi 113,47 pada Juli 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi dengan kenaikan 5,95 persen secara tahunan. Namun, komoditas penyumbang andil terbesar justru berasal dari emas perhiasan yang mencapai 0,46 persen.
Cabai merah menyusul dengan andil 0,37 persen, diikuti cabai rawit 0,32 persen dan tomat 0,23 persen. Bensin turut menyumbang 0,22 persen, sementara minyak goreng dan angkutan udara masing-masing menyumbang 0,16 persen dan 0,14 persen.
"Pada Juli 2026, Provinsi Sumatera Utara mengalami inflasi secara tahunan sebesar 4,20 persen. Secara bulanan inflasi tercatat 0,19 persen, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,09 persen," ujar Misfaruddin, Senin (3/8).
Di tengah tekanan harga yang meluas, bawang merah justru mengalami penurunan harga signifikan. Komoditas ini menjadi penyumbang deflasi terbesar secara tahunan dengan andil 0,28 persen.
Penurunan harga juga terjadi pada daging babi, kacang panjang, sawi putih, hingga bawang bombai. Untuk inflasi bulanan, penurunan harga bawang merah kembali menjadi faktor utama penahan laju inflasi dengan andil deflasi 0,17 persen.
Seluruh kabupaten dan kota yang menjadi daerah penghitungan IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan maupun bulanan. Kota Gunungsitoli mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,36 persen dengan IHK 116,38.
Sementara itu, Kabupaten Karo menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 3,83 persen dengan IHK 113,17. Kota Gunungsitoli juga mencatat inflasi bulanan tertinggi pada periode yang sama.
Untuk inflasi bulanan Juli 2026, kenaikan harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,17 persen. Beras menyumbang 0,07 persen, diikuti tomat 0,06 persen dan bensin 0,05 persen.
Sebaliknya, penurunan harga terjadi pada emas perhiasan, ikan tongkol, jeruk, telur ayam ras, hingga minyak goreng yang turut menahan laju inflasi bulanan.
Misfaruddin menambahkan, tekanan harga di Sumatera Utara masih cukup kuat. Pada Juli 2024 inflasi tahunan tercatat 2,06 persen, meningkat menjadi 2,86 persen pada Juli 2025, dan kembali naik menjadi 4,20 persen pada Juli 2026.