SUMATERA UTARA — Penandatanganan dilakukan langsung oleh Ketua PCI Malaysia, Datuk K.H. Rudi Mhafud, bersama Ketua HEBITREN Jakarta Timur, K.H. Zaenul Muttaqin, S.E, M.Pd. Kesepakatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi pijakan bagi lahirnya ekosistem bisnis pesantren yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir.
Malaysia dipilih sebagai mitra strategis karena posisinya sebagai salah satu pusat perdagangan halal utama di Asia Tenggara. Melalui kolaborasi ini, produk unggulan pesantren Indonesia diharapkan bisa menembus pasar Malaysia dan negara ASEAN lainnya. Sebaliknya, jaringan pesantren di Indonesia juga akan menjadi pintu masuk bagi produk-produk Malaysia yang ingin menjangkau konsumen Muslim domestik.
K.H. Zaenul Muttaqin menegaskan bahwa kemandirian pesantren masa depan harus dibangun di atas sinergi antara pendidikan, teknologi, dan ekonomi. "Pesantren harus menjadi pelopor lahirnya ekonomi umat yang kuat. Santri bukan hanya dipersiapkan menjadi ahli ilmu agama, tetapi juga menjadi pelaku usaha yang amanah, profesional dan mampu membawa produk halal Indonesia menembus pasar dunia," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (7/8).
Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman ini, kedua lembaga akan segera menginisiasi sejumlah program kerja nyata. Prioritas utama mencakup pelatihan teknis ekspor-impor dan pendampingan sertifikasi halal yang selama ini kerap menjadi hambatan bagi pelaku usaha kecil. Selain itu, akan digelar business matching antara pelaku usaha pesantren dari kedua negara untuk mempertemukan produsen dengan calon pembeli.
Pengembangan logistik perdagangan dan promosi produk unggulan juga masuk dalam agenda. Dengan adanya jaringan bisnis lintas negara ini, pesantren tidak lagi berjalan sendiri dalam mengembangkan koperasi dan UMKM-nya.
Datuk K.H. Rudi Mhafud menyebut kolaborasi ini sebagai jembatan yang menghubungkan produk Indonesia ke pasar global, sekaligus membuka peluang bagi produk Malaysia masuk ke jaringan pesantren Indonesia secara profesional. Menurutnya, kerja sama ini harus berlandaskan nilai kejujuran, keberkahan, dan keadilan agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
"Kerja sama ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi umat, pencetak wirausahawan berintegritas, serta jembatan diplomasi ekonomi yang membawa keberkahan bagi kedua bangsa," pungkasnya.
Dengan semangat persaudaraan serumpun, HEBITREN Jakarta Timur dan PCI Malaysia optimistis mampu menghadirkan model bisnis pesantren modern yang berkontribusi pada pembangunan ekonomi syariah regional. Langkah ini menjadi sinyal positif bagi penguatan kemandirian ekonomi pesantren di kawasan ASEAN.