TAPANULI SELATAN — Hamparan sawah yang dulu menjadi tumpuan hidup keluarga Yanti (45) di Desa Bange, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kini berubah menjadi hamparan material lumpur dan bebatuan. Banjir bandang yang melanda pada 25 November 2025 tidak hanya merendam, tetapi juga menimbun lahan produktif miliknya dengan sedimen, memupus harapan panen seperti sediakala.
Perempuan yang sehari-hari menggarap sawah bersama suaminya ini harus kehilangan sebagian besar area tanam. Dari total lahan 0,5 hektare yang biasa ditanami padi dua kali setahun, kini hanya tersisa sekitar 0,1 hektare yang masih produktif. Sebelum bencana, setiap musim panen lahan itu mampu menghasilkan sekitar 3,5 ton gabah kering yang bernilai hingga Rp 24,5 juta.
Bagi Yanti, sawah bukan sekadar ladang usaha, melainkan penopang biaya pendidikan lima anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah atas. Kehilangan sebagian besar lahan berarti kehilangan kepastian untuk membiayai sekolah mereka.
"Setelah banjir, sawah kami tinggal sedikit. Banyak yang tertutup pasir dan lumpur sehingga tidak bisa lagi ditanami seperti dulu," kata Yanti kepada Antara, Jumat (28/11).
Kini, hasil panen dari lahan yang tersisa lebih banyak dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari keluarga. Cita-cita menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi semakin berat untuk diwujudkan karena sumber pendapatan utama telah berkurang drastis.
Di tengah keterbatasan, Yanti dan keluarganya berupaya mencari sumber penghasilan alternatif. Mereka mulai membuka lahan untuk menanam palawija dan tanaman hortikultura sebagai penyangga ekonomi keluarga.
Langkah ini diambil sebagai jalan keluar sementara, mengingat sawah yang tertimbun material banjir tidak mungkin cepat kembali berfungsi. Lumpur dan batu yang mengendap membuat lahan sulit diolah untuk tanaman padi dalam waktu dekat.
Kondisi yang dialami Yanti ternyata bukan kasus tunggal. Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Batu Godang Sayur Matinggi, Takdir Ali Syabana, menyebut masih banyak petani di wilayah kerjanya yang menghadapi persoalan serupa.
"Masih banyak petani lain yang mengalami kondisi serupa, seperti di Desa Tolang Jae, Tolang Julu dan Lumban Huayan," ujar Takdir.
Sejumlah areal persawahan di desa-desa tersebut masih tertutup material lumpur, pasir, dan bebatuan yang terbawa arus banjir bandang. Kondisi ini membuat sebagian lahan belum dapat diusahakan kembali untuk tanaman padi.
Yanti berharap pemerintah daerah memberikan perhatian serius pada upaya pemulihan lahan pertanian pascabencana. Pembersihan sedimentasi yang menutup areal persawahan menjadi prioritas utama yang ia harapkan segera dilakukan.
Menurutnya, tanpa adanya program pemulihan lahan, para petani akan semakin sulit mengembalikan produktivitas pertanian mereka. Pemulihan ini bukan hanya soal mengembalikan fungsi lahan, tetapi juga menyelamatkan sumber penghidupan puluhan keluarga yang bergantung pada sektor pertanian di Tapanuli Selatan.