SIMALUNGUN — Bea Cukai Belawan kembali membuka ruang dialog dengan pelaku industri melalui program Customs Visit Customers (CVC) ke PT Unilever Oleochemical Indonesia di KEK Sei Mangkei. Langkah ini diambil untuk memastikan proses pelayanan dan pengawasan kepabeanan berjalan selaras dengan kebutuhan dunia usaha di tengah dinamika perdagangan global.
Dalam kunjungan tersebut, tim Bea Cukai Belawan turut menggandeng Balai Laboratorium Bea Cukai Medan. Kolaborasi ini difokuskan pada penyelarasan informasi dan proses bisnis terkait penanganan produk kelapa sawit mentah (CPO) beserta turunannya yang menjadi komoditas utama perusahaan.
Kepala Kantor Bea Cukai Belawan, Agus Sujendro, menegaskan bahwa kegiatan rutin ini merupakan sarana untuk mendengar secara langsung kendala yang dihadapi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan kepabeanan. Menurutnya, pemahaman terhadap proses bisnis perusahaan menjadi kunci untuk menghadirkan pelayanan yang lebih baik.
"CVC menjadi sarana bagi kami untuk mendengar secara langsung aspirasi dan masukan dari pelaku usaha. Kami ingin memastikan bahwa proses pelayanan dan pengawasan kepabeanan dapat berjalan selaras dengan kebutuhan dunia usaha," ujar Agus.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi dan komunikasi yang terbuka menjadi bagian penting dalam menciptakan proses bisnis yang lebih baik serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
Export & Import Manager PT Unilever Oleochemical Indonesia, Christian Fredrik Purba, menyambut baik langkah Bea Cukai Belawan tersebut. Ia menilai dukungan dan pendampingan yang diberikan selama ini sangat membantu kelancaran proses customs clearance di perusahaannya.
"Di tengah dinamika bisnis dan tantangan perdagangan global, sinergi ini menjadi kunci utama. Dalam kerangka AEO, hubungan Bea Cukai dan pelaku usaha adalah bentuk partnership yang sejajar, saling mendukung, berkolaborasi, dan membangun trust untuk mendukung pertumbuhan industri," kata Christian.
Melalui kegiatan ini, Bea Cukai Belawan berkomitmen untuk terus mengevaluasi kualitas pelayanannya berdasarkan masukan dari para pemangku kepentingan. Hal ini dilakukan tanpa mengesampingkan fungsi pengawasan yang menjadi mandat utama instansi tersebut.
Masukan yang terkumpul dari kunjungan langsung ke pabrik akan dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat pelaksanaan fungsi pengawasan di masa mendatang.