SUMATERA UTARA — CMF by Nothing resmi menjual TWS Clip Pro di Indonesia melalui distributor Erajaya Digital. Berbeda dari kebanyakan TWS yang dimasukkan ke liang telinga, earbud ini menjepit daun telinga dengan konsep open-ear. Kami mencobanya untuk aktivitas harian—mendengarkan musik, podcast, dan panggilan telepon—selama beberapa hari. Perlu dicatat, ini adalah kesan awal, bukan kesimpulan jangka panjang soal durabilitas.
Bobot 5,9 gram per earbud adalah angka yang impresif. Klaim stabilitas dari desain 3-Point Clip Design terbukti akurat untuk penggunaan santai—jalan kaki atau duduk di meja kerja sama sekali tidak masalah. Namun, ada catatan penting: pengguna dengan daun telinga tipis atau kecil mungkin merasakan tekanan di area tertentu setelah pemakaian lebih dari satu jam.
Karena bentuknya open-ear, tidak ada isolasi noise. Suara kendaraan, obrolan orang, atau suara AC kantor akan ikut terdengar. Ini memang tujuan desainnya, tapi pastikan kamu siap dengan lingkungan yang tidak selalu tenang.
CMF membekali Clip Pro dengan driver dinamis dual-magnet 10,8 mm dan dukungan Hi-Res Audio via codec LDAC. Pada koneksi dengan smartphone Android yang mendukung LDAC, detail suara yang dihasilkan cukup baik untuk kelas open-ear. Vokal terasa bersih dan instrumen high-end tidak terdengar sengau atau pecah.
Fitur Ultra Bass Technology yang diklaim CMF bekerja cukup efektif, tapi jangan berharap sensasi bass seperti TWS in-ear dengan driver besar. Karakter suaranya cenderung datar dengan penekanan di midrange—cocok untuk podcast dan musik pop, kurang greget untuk genre EDM atau hip-hop yang mengandalkan sub-bass dalam.
Satu hal yang perlu diuji lebih lama adalah Sound Seal System yang diklaim meminimalkan kebocoran suara. Pada volume di atas 70%, orang di dekatmu tetap bisa mendengar suara yang keluar dari earbud ini.
Charging case Clip Pro punya tombol fisik bernama Smart Dial yang bisa diputar dan ditekan. Fungsinya untuk kontrol volume dan navigasi lagu. Responsnya cepat dan lebih presisi dibanding kontrol sentuh di banyak TWS lain yang sering salah pencet.
Untuk panggilan, kombinasi empat mikrofon HD dan VPU-powered Clear Voice Technology bekerja baik di ruangan hening. Suara lawan bicara terdengar jelas, dan lawan bicara kami tidak mengeluhkan kebisingan latar yang terlalu mengganggu saat kami berada di dekat jalan raya.
Fitur pendukung lainnya juga lengkap: Bluetooth 5.4, dual device connection untuk dua perangkat sekaligus, Low Latency Mode untuk gaming, serta Google Fast Pair dan Microsoft Swift Pair. Sertifikasi IP54 membuatnya aman dari keringat dan percikan air, jadi cocok untuk olahraga ringan.
CMF mengklaim earbud mampu bertahan 10 jam dalam sekali charge, dan total 32,5 jam dengan charging case. Untuk pemakaian normal dengan volume 60% dan koneksi LDAC aktif, angka 10 jam tersebut terasa realistis—mungkin berkurang 1-2 jam jika volume dipaksa maksimal atau Low Latency Mode selalu aktif.
Charging case-nya sendiri tidak mendukung wireless charging, jadi kamu harus mengisi lewat kabel USB-C. Ini bukan masalah besar di kelas harga ini, tapi perlu dicatat.
Setelah pemakaian beberapa hari, berikut rangkuman kami:
CMF Clip Pro adalah produk yang sangat spesifik. Ia bukan pengganti TWS in-ear dengan ANC yang harganya sama. Ia dirancang untuk kamu yang prioritas utamanya adalah kesadaran situasional—misalnya saat berlari di luar ruangan, bersepeda, atau bekerja di kantor yang butuh tetap mendengar rekan bicara.
Dengan harga Rp 1.699.000, kamu membayar untuk kenyamanan ergonomis dan fitur konektivitas yang lengkap. Jika kamu mencari TWS untuk mendengarkan musik dengan isolasi penuh dan bass mantap, produk ini bukan jawabannya. CMF Clip Pro lebih cocok untuk mereka yang mengutamakan kenyamanan dan keamanan di lingkungan sekitar daripada kualitas audio maksimal.