MEDAN — Organisasi perusahaan pers siber di Sumatera Utara menyambut baik rancangan kurikulum uji kompetensi yang tidak hanya mengukur kemampuan menulis, tetapi juga penguasaan algoritma mesin pencarian. Ketua SMSI Sumut Erris Julietta Napitupulu menegaskan bahwa organisasinya siap terlibat aktif dalam perumusan model tersebut.
“Kami SMSI Sumut mendukung penelitian ini dengan hadirnya SMSI dari berbagai daerah di Sumatera Utara ini. Kami sampaikan apresiasi kepada tim peneliti bahwa ini pertama dilakukan di Sumatera Utara di mana tentunya SMSI mempunyai peran strategis dalam mengimplementasikan SEO untuk peningkatan keterampilan wartawan,” kata Erris di sela-sela acara.
Ketua tim riset, Dr Dedi Sahputra, memaparkan data yang menjadi dasar pentingnya pembaruan modul UKW. Saat ini terdapat lebih dari 51.000 media siber di Indonesia yang secara ekonomi masih rentan, sehingga memicu kompetisi trafik yang brutal.
“Saat ini lebih dari 51.000 media siber pertumbuhannya masih tetapi rentan secara ekonomi sehingga memicu kompetisi trafik yang brutal. Sementara 16.245 wartawan tersertifikasi tetapi hanya ada 9.409 dari media siber. Dan 0 persen ujian SEO di UKW karena modul UKW PWI saat ini mengabaikan uji spesifik mengenai SEO dan literasi algoritmik,” jelas Dedi dalam materinya.
Erris menjelaskan bahwa keterlibatan SMSI dalam penelitian ini bukan tanpa dasar. Organisasi yang dipimpinnya telah mencatatkan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), termasuk sebagai organisasi perusahaan pers siber dengan jumlah anggota terbanyak di dunia, mencapai 3.500 anggota di 34 provinsi.
Rekor lain yang diraih adalah kecepatan dan daya sebar 571 media siber yang memuat opini “Mendambakan Keadilan Sosial” dalam 7,5 jam. Terbaru, SMSI menerima penghargaan atas aksi donor darah serentak di 33 provinsi yang diberitakan sekitar 1.300 media online.
Tim peneliti mengusulkan agar literasi SEO menjadi bahan uji formal di semua jenjang UKW. Untuk jenjang wartawan muda, ujian difokuskan pada aspek eksekusi teknis penulisan ramah mesin pencari, sementara wartawan madya diarahkan pada strategi pengelolaan konten. Adapun wartawan utama akan diuji pada tataran kebijakan redaksional.
Dedi menambahkan, sistem algoritma Google yang dinamis menuntut teknis khusus dalam mengemas produk jurnalistik. Namun, ia mengingatkan bahwa penguasaan SEO tidak boleh mengesampingkan etika dan hukum pers dalam setiap produk yang layak publikasi.
Penelitian berjudul “Implementasi SEO untuk Peningkatan Keterampilan Wartawan Menghasilkan Produk Jurnalistik dengan konten Etika dan Hukum Pers untuk Keberlanjutan Media Siber” ini diketuai Dr Dedi Sahputra dari UMA, dengan anggota Dr Zakaria Siregar dari UISU dan Dr Fauji Wikanda dari UMA.