SAMOSIR — Kawasan Danau Toba menghadapi tekanan ganda: kelestarian lingkungan yang terus tergerus dan sumber penghidupan warga yang belum pulih. Di tengah promosi Danau Toba sebagai Destinasi Super Prioritas dunia, persoalan bukit gundul, longsor musiman, dan mata air kering menjadi ancaman nyata bagi petani di sekitar kawasan.
Paul Manjo Sinaga dan Tomu Raja Tamba menawarkan pendekatan berbeda. Keduanya menilai budaya Porlak yang diwarisi masyarakat Batak Toba dapat digali kembali sebagai jawaban atas persoalan tersebut.
Bagi Bangso Batak, Porlak memiliki makna yang jauh lebih dalam dari kebun biasa. Porlak adalah identitas dan pangulaan, tempat orang Batak menunjukkan jati dirinya.
Di dalamnya terkandung falsafah Marsipature Hutanabe, konsep Dalihan Na Tolu tentang keseimbangan, serta pemahaman Rupang Ni Tano yang memandang tanah bukan sekadar komoditas, melainkan ibu yang memberikan kehidupan.
Paul dan Tomu melihat nilai-nilai itu sebagai cara leluhur Batak menjaga alam. Menurut keduanya, leluhur Batak telah menerapkan prinsip yang kini dikenal sebagai pembangunan berkelanjutan, meski istilah sustainable development dan carbon credit belum dikenal pada masa itu.
Praktik konservasi leluhur Batak terlihat dari kebiasaan tidak menebang pohon di sekitar Aek Mual. Mereka juga menyisakan Hutan Larangan sebagai zona yang tidak boleh diganggu.
Pohon keras seperti Hariara, Jior, dan Ingul ditanam di sekitar Porlak. Fungsinya menahan tanah agar tidak mudah longsor saat hujan deras mengguyur lahan miring.
Dengan pola itu, Porlak dipandang sebagai bentuk konservasi yang sekaligus mendukung kehidupan ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut diterapkan di Porlak Rakyat Lumban Pokki, Desa Ronggur Nihuta, Samosir. Upaya itu diarahkan untuk menghidupkan kembali nilai budaya dalam pengelolaan lahan dengan menggabungkan kepentingan konservasi dan ekonomi.
Salah satu tanaman yang dikembangkan adalah Sereh Wangi. Tanaman ini memiliki akar kuat untuk mencengkeram tanah. Pada lahan miring Lumban Pokki yang rawan longsor, Sereh Wangi berfungsi menjaga kondisi lahan.
Selain itu, daun Sereh Wangi dapat disuling menjadi minyak atsiri yang memiliki harga tinggi di pasar. Pendekatan ini diharapkan membuat pengelolaan lingkungan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.