TAPANULI UTARA — Kabar duka datang dari lingkungan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA) di Lampung. Cristin, mahasiswi yang berasal dari Tapanuli Utara, Sumatera Utara, meninggal dunia pada Minggu (25/10/2026) setelah beberapa hari sebelumnya kondisi tubuhnya menurun drastis.
Sebelum meninggal, Cristin dilaporkan mengalami sesak napas dan muntah darah. Teman-temannya berupaya membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan medis, namun nyawanya tidak tertolong.
Kecelakaan Sebulan Sebelumnya Dianggap Luka Ringan
Informasi yang beredar menyebutkan Cristin mengalami kecelakaan sepeda motor sekitar satu bulan sebelum meninggal. Saat kejadian, ia diduga menganggap luka yang dialaminya tidak serius karena tidak terlihat jelas secara kasatmata.
Cristin sempat dibawa ke rumah sakit terdekat usai kecelakaan. Dari narasi yang beredar, ia disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk rontgen, untuk mengetahui kondisi tubuhnya secara menyeluruh.
Kendala Biaya Bikin Pemeriksaan Lanjutan Tak Dijalani
Cristin disebut tidak tega meminta tambahan biaya kepada orang tuanya yang tinggal di Tapanuli Utara. Keluarganya dikabarkan memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga ia memilih menjalani pemulihan di tempat kos dan berharap kondisinya membaik.
Hingga kini, penyebab medis kematiannya belum dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi yang beredar. Kepastian soal hubungan antara kecelakaan yang dialaminya dan kondisi kesehatannya memerlukan keterangan medis terverifikasi.
Biaya Pulang Rp 20 Juta, Donasi Teman Belum Cukup
Setelah kabar duka tersebut, muncul persoalan lain yang harus dihadapi, yakni biaya pemulangan jenazah Cristin ke kampung halamannya di Tapanuli Utara. Biaya transportasi udara diperkirakan mencapai Rp 20 juta, sementara keluarga disebut mengalami keterbatasan untuk menanggungnya.
Teman-teman Cristin berupaya mengumpulkan bantuan melalui donasi. Alokasi uang kas program studi juga disebut telah diupayakan untuk membantu proses pemulangan jenazah.
Namun, dana yang terkumpul dikabarkan belum mencukupi. Jenazah Cristin akhirnya direncanakan dibawa melalui jalur darat dengan perkiraan perjalanan sekitar tiga hari menuju kampung halamannya.
Pengingat soal Kesehatan yang Sering Diabaikan Mahasiswa
Kisah Cristin menjadi peringatan bagi mahasiswa rantau untuk tidak mengabaikan keluhan kesehatan, terutama setelah mengalami kecelakaan. Pemeriksaan lanjutan seperti rontgen kerap dianggap tidak mendesak, padahal bisa mendeteksi cedera yang tidak tampak dari luar.
Persoalan biaya menjadi faktor yang membuat sebagian mahasiswa menunda berobat. Kondisi tersebut juga yang disebut terjadi pada Cristin, yang memilih bertahan di kos daripada membebani orang tuanya di Tapanuli Utara.