SUMATERA UTARA — Otoritas Industri Maritim Filipina (MARINA) menyatakan muatan mudah terbakar yang tidak disimpan sesuai prosedur sebagai penyebab kebakaran kapal feri MV June Aster, bukan baterai kendaraan listrik. Kapal yang berlayar dari Manila menuju Coron, Palawan, itu terbakar pada 9 September 2026 dan menewaskan 77 orang. Penyelidikan terpisah oleh Penjaga Pantai Filipina, Biro Perlindungan Kebakaran, dan Kepolisian Nasional Filipina masih berlangsung.
Kepala MARINA Wilayah IV, Maximo Bañares Jr., mengungkapkan temuan awal pihaknya terkait insiden yang menewaskan 77 orang tersebut. Pernyataan ini sekaligus meredam spekulasi yang berkembang sejak hari-hari pertama pasca-kebakaran.
"Saya tidak ingin mendahului pengumuman laporan resmi, tetapi terdapat banyak muatan mudah terbakar di dalam kapal. Dan muatan tersebut tidak diamankan dengan semestinya," ujar Bañares seperti dikutip media lokal Filipina, Autoindustriya.
MV June Aster dioperasikan oleh Atienza Inter-Island Ferries dan berlayar dari Manila menuju Coron, Palawan. Kebakaran terjadi di tengah perjalanan, memicu kepanikan di atas kapal.
Sejumlah penyintas melaporkan mendengar ledakan keras dari arah dek kargo. Karena kapal diketahui mengangkut kendaraan listrik selain kendaraan konvensional, ledakan itu langsung dikaitkan dengan potensi thermal runaway pada baterai EV.
Spekulasi tersebut cukup kuat hingga mendorong Penjaga Pantai Filipina dan Departemen Energi (DOE) melakukan penyelidikan khusus. Kedua lembaga menelusuri apakah baterai kendaraan listrik benar-benar menjadi pemicu kebakaran.
MARINA menyoroti cara muatan berbahaya ditempatkan di dalam kapal. Menurut Bañares, ada aturan ketat soal posisi penyimpanan barang mudah terbakar yang seharusnya dipatuhi operator.
"Ada tata cara yang tepat dalam menangani muatan mudah terbakar, dan muatan itu tidak boleh disimpan di dekat area penumpang. Itulah hal yang telah diteliti oleh tim penyelidik kami," tambahnya.
Pernyataan ini mengarahkan perhatian pada potensi kelalaian prosedur kargo, bukan pada teknologi baterai kendaraan listrik. Namun MARINA belum merilis laporan resmi lengkap terkait temuan tersebut.
Penyelidikan terpisah masih dijalankan oleh Penjaga Pantai Filipina, Biro Perlindungan Kebakaran, dan Kepolisian Nasional Filipina. Ketiga lembaga bekerja paralel untuk memastikan penyebab pasti insiden.
Sejumlah perusahaan pelayaran di Filipina mengambil langkah preventif dengan melarang sementara pengangkutan kendaraan listrik di kapal feri. Kebijakan ini berlaku selama proses penyelidikan berlangsung.
Larangan tersebut berpotensi memengaruhi mobilitas pemilik EV di wilayah kepulauan Filipina yang mengandalkan transportasi laut untuk perpindahan antarpulau. Operator feri belum memberi keterangan soal berapa lama kebijakan sementara ini akan diterapkan.
Hingga kini, jumlah penumpang yang masih dinyatakan hilang belum diperbarui secara resmi oleh otoritas setempat.