MEDAN — Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS sebelum akhirnya bertahan di kisaran Rp17.981. Pelemahan tipis 0,02 persen atau 3 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya itu sejalan dengan dinamika mata uang kawasan Asia yang bergerak bervariasi terhadap dolar AS.
Dolar Taiwan mencatat pelemahan paling dalam di kawasan, yakni 0,39 persen. Dolar Singapura menyusul melemah 0,13 persen, peso Filipina turun 0,06 persen, baht Thailand terkoreksi 0,04 persen, rupee India melemah 0,04 persen, dan yen Jepang turun 0,01 persen.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi dua sentimen eksternal utama. "Kendati demikian, pelemahan rupiah berhasil terbatasi oleh langkah intervensi BI di pasar spot lewat NDF [Non Deliverable Forward], maupun DNDF [Domestic Non Deliverable Forward]," ujar Lukman, Selasa (29/9/2026).
Intervensi Bank Indonesia di pasar spot tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang membantu menahan tekanan terhadap rupiah. Langkah ini lazim ditempuh otoritas moneter ketika nilai tukar menghadapi guncangan dari sentimen global.
Selain kebijakan moneter Amerika Serikat, pelaku pasar menantikan sejumlah data ekonomi penting. Dari dalam negeri, data inflasi Indonesia untuk September 2026 diperkirakan mengalami kenaikan.
Kenaikan inflasi berpotensi memberikan tekanan kepada Bank Indonesia terkait arah kebijakan suku bunga utama. Investor mencermati apakah BI akan mempertahankan atau menyesuaikan bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah.
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor, termasuk bahan pangan, elektronik, dan komponen industri yang banyak masuk melalui pelabuhan Belawan. Bagi pelaku UMKM di Medan dan sekitarnya, kenaikan biaya bahan baku impor bisa menekan margin keuntungan.
Di sisi lain, eksportir komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan kopi di Sumatera Utara berpotensi diuntungkan karena harga jual dalam dolar AS menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah. Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan dipengaruhi perkembangan pasar global, data ekonomi Amerika Serikat, serta kondisi inflasi domestik.