SUMATERA UTARA — Lebih dari 200 wanita kini bekerja di fasilitas produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Perusahaan menerapkan prinsip All Member All Process (AMAP) yang membuka kesempatan kerja di berbagai proses produksi tanpa membedakan gender, usia, maupun kondisi fisik. Langkah ini menjadi bagian dari persiapan sumber daya manusia menghadapi era elektrifikasi kendaraan.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, I Nyoman Winaya, menyatakan jumlah pekerja wanita di fasilitas produksi perusahaan telah melampaui angka 200 orang. Mereka tersebar di berbagai tahapan produksi mobil Toyota yang dirakit di Indonesia.
Penerapan prinsip AMAP menjadi dasar kebijakan ini. Setiap anggota tim mendapat kesempatan bekerja di berbagai proses sesuai kompetensi yang dimiliki, tanpa memandang latar belakang.
TMMIN tidak sekadar membuka pintu bagi pekerja wanita. Perusahaan menyesuaikan stasiun kerja dengan kebutuhan masing-masing individu melalui alat bantu produksi bernama karakuri.
"Kami juga menyesuaikan pekerjaan dengan kebutuhan masing-masing individu, antara lain melalui penggunaan alat bantu seperti karakuri, alat bantu produksi yang dapat meringankan pekerjaan," ujar I Nyoman saat ditemui di Karawang, Jawa Barat.
Alat bantu ini berperan penting di lini perakitan yang menuntut pengangkatan komponen berat. Dengan karakuri, beban fisik yang harus ditanggung pekerja berkurang, sehingga pekerja wanita bisa mengisi posisi yang sebelumnya didominasi pria.
Kebijakan ketenagakerjaan TMMIN berpijak pada filosofi perusahaan yang menempatkan pengembangan manusia di atas produk. I Nyoman menegaskan prinsip itu tetap dipegang, terutama saat industri otomotif Indonesia bertransisi ke kendaraan listrik.
"Di Toyota kami memiliki filosofi Make People before Make Product. Dengan filosofi ini, kami selalu mengedepankan People Development dalam kegiatan usaha. Khususnya dalam era elektrifikasi," kata I Nyoman.
Persiapan SDM dilakukan sebelum lini produksi kendaraan elektrifikasi berjalan. Pelatihan mencakup keselamatan kerja, proses produksi, delivery, hingga kontrol kualitas kendaraan elektrifikasi.
TMMIN mengadopsi otomatisasi secara bertahap menyesuaikan kebutuhan proses produksi. Meski demikian, perusahaan memastikan kemampuan karyawan terus dikembangkan agar tetap relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
"Kami melakukan otomatisasi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan proses produksi. Namun, di saat yang sama, kami juga memastikan bahwa kemampuan dan kompetensi karyawan terus dikembangkan dengan memberikan keterampilan yang lebih relevan dengan kebutuhan saat ini," kata I Nyoman.
Langkah ini menempatkan TMMIN sejalan dengan kebutuhan industri otomotif nasional yang mulai bergeser ke produksi kendaraan listrik. Kesiapan tenaga kerja menjadi faktor penentu, selain teknologi dan fasilitas produksi.
Bagi industri otomotif Indonesia, langkah TMMIN memberi gambaran bahwa diversifikasi tenaga kerja di lini produksi bisa berjalan seiring dengan persiapan elektrifikasi. Perusahaan lain di sektor yang sama masih jarang mempublikasikan angka serupa.