Rupiah Menguat ke Rp17.896 per Dolar AS, IHSG Rebound ke 6.039

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 10:05:31 WIB
Papan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG dibuka naik ke level 6.039,01.

SUMATERA UTARA — Nilai tukar rupiah menguat 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.896 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (9/10/2026), sehari setelah tertekan 28 poin ke Rp17.915. IHSG turut dibuka naik 7,73 poin atau 0,13 persen ke 6.039,01, memantul dari koreksi 1,88 persen pada sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi saat pelaku pasar masih mencermati risiko geopolitik Amerika Serikat-Iran dan arah suku bunga The Fed.

Pemulihan rupiah dan IHSG pada awal sesi berlangsung terbatas. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut tekanan pada Kamis lalu dipicu kenaikan tiga indikator global sekaligus: US Dollar Index (DXY), imbal hasil US Treasury (UST yield), dan harga minyak mentah dunia. Ketiganya bergerak naik setelah pasar memperhitungkan kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran.

Indeks LQ45 ikut menguat 1,38 poin atau 0,23 persen ke 595,02 pada pembukaan. Sehari sebelumnya, indeks 45 saham unggulan itu terkoreksi 12,08 poin atau 1,99 persen ke 593,64, sejalan dengan IHSG yang ditutup melemah 115,44 poin ke 6.031,28.

Tiga Indikator Global yang Menekan Rupiah

DXY mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama. Ketika indeks ini menguat, dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor sehingga mata uang lain berpotensi tertekan. Hal serupa berlaku pada UST yield, yang membuat aset berbasis dolar semakin kompetitif dibandingkan aset di negara berkembang.

Kenaikan harga minyak mentah menambah beban tersendiri bagi Indonesia sebagai negara pengimpor energi, terutama lewat potensi pembengkakan biaya impor. Lukman menilai kombinasi ketiga faktor itu menjelaskan pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis.

Keyakinan Konsumen Domestik Ikut Menekan

Selain faktor eksternal, data domestik turut membebani pergerakan rupiah. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada September 2026 turun dari 118,5 ke 118,1.

"Data yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia dari 118,5 ke 118,1 ikut membebani rupiah," kata Lukman, dikutip Antara.

Penurunannya memang terbatas. Meski begitu, IKK mencerminkan pandangan masyarakat soal kondisi ekonomi saat ini dan perkiraan ke depan, termasuk pendapatan, ketersediaan lapangan kerja, serta rencana konsumsi.

Risalah The Fed dan Ekspektasi Suku Bunga

Di pasar saham, tekanan pada Kamis berasal dari ekspektasi bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada akhir 2026. Risalah rapat bank sentral AS menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan masih diperlukan satu kali kenaikan untuk menjaga inflasi tetap terkendali.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan penurunan bursa regional Asia. Inflasi AS yang masih di atas target jangka panjang 2 persen menjadi pertimbangan utama arah kebijakan moneter.

Bagi pasar saham, ekspektasi suku bunga tinggi memengaruhi biaya pinjaman perusahaan dan tingkat keuntungan yang diharapkan investor. Kondisi ini juga membatasi ruang pelonggaran kebijakan yang sebelumnya diharapkan sebagian pelaku pasar.

Yang Perlu Dicermati Investor

Penguatan rupiah dan IHSG pada pembukaan belum tentu berlanjut sepanjang sesi. Pergerakan DXY, UST yield, dan harga minyak masih menjadi variabel utama yang dipantau pelaku pasar, terutama selama ketegangan AS-Iran belum mereda.

Dari dalam negeri, arah IKK bulan berikutnya dan rilis data ekonomi lanjutan akan menentukan apakah tekanan terhadap rupiah bersifat sementara atau berlanjut. Investor obligasi dan saham perbankan biasanya paling sensitif terhadap kombinasi yield AS yang tinggi dan pelemahan mata uang.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: tirto.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top