JAKARTA — Penelitian kolaborasi itu digawangi Philippe Borsa, Udhi E. Hernawan, Régis Hocdé, dan Laurent Pouyaud. Selama 250 tahun terakhir, peneliti menamai spesies baru lewat pengamatan morfologi, yakni meneliti bentuk fisik luar seperti moncong, duri punggung, sampai corak totol di kulit.
Cara konvensional itu gagal saat dipakai meneliti pari cambuk dari marga Himantura. Dari 16 ciri fisik yang diuji, tidak ada satu pun yang akurat karena motif totol di punggung pari berubah seiring pertumbuhan hewan tersebut.
Dalam biologi, hewan seperti ini disebut cryptic species alias spesies kriptik. Dari luar wujudnya tampak kembar identik, tapi susunan genetik di dalam tubuhnya berbeda jauh dan tidak bisa kawin silang.
Udhi E. Hernawan dari Pusat Riset Oseanografi BRIN memindai 249 sampel DNA pari cambuk dengan teknik DNA barcoding. Cara kerjanya mirip kasir minimarket yang memindai barcode barang belanjaan.
Yang dipindai adalah urutan basa genetik pada gen CO1 untuk membaca identitas asli tiap ekor pari. Dari pemindaian itu terungkap bahwa pari cambuk sebenarnya terbagi menjadi delapan spesies berbeda.
Himantura arlyzae sudah berpisah garis keturunan dari kerabatnya di Australia, Himantura australis, sejak lebih dari 4 juta tahun lalu.
Saat dewasa, kelompok pari dari marga Himantura punya lebar bentang tubuh mencapai 1,1 hingga 1,6 meter dengan ekor menjuntai panjang mirip cambuk. Jika dibentangkan di lantai, lebar tubuhnya kira-kira seukuran kasur queen size atau meja makan keluarga.
Spesimen acuan (holotype) Himantura arlyzae yang masih berusia remaja punya lebar cakram tubuh 38,2 sentimeter dengan panjang total dari moncong ke ujung ekor mencapai 142 sentimeter.
Pari remaja bersejarah itu dikumpulkan langsung oleh almarhum Irma S. Arlyza (1974–2019) dari tangkapan nelayan lokal di perairan dangkal Pulau Selayar, Laut Flores, pada November 2009. Sebelum berpulang, Irma adalah peneliti genetika hiu dan pari (Elasmobranchii) di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, lembaga yang kini melebur menjadi BRIN.
Riset disertasi Irma pada 2013 menjadi fondasi utama penemuan ini. Sebagai penghormatan atas dedikasinya memetakan genetika ikan pari di laut Indonesia, namanya disematkan menjadi nama ilmiah spesies baru tersebut.
Di ekosistem laut dangkal, pari cambuk adalah predator menengah sekaligus "tukang kebun" dasar laut. Saat berenang mengaduk pasir untuk mencari pakan, kepakan tubuh mereka melepaskan nutrisi yang terpendam di lumpur dan menjaga sirkulasi oksigen di dasar laut tetap sehat.
Kalau pari cambuk habis ditangkap, keseimbangan ekosistem pesisir rusak. Populasi ikan karang dan hasil laut yang biasa ditangkap nelayan ikut anjlok, sehingga stok ikan konsumsi menyusut dan harga seafood di pasar bisa makin mahal.
Ancaman terbesar pari cambuk justru datang dari selera fesyen manusia. Selain dagingnya dikonsumsi, kulit pari diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti tas mewah.
Status Himantura arlyzae yang belum masuk daftar perlindungan IUCN membuat spesies baru ini rentan dieksploitasi sebelum sempat dipetakan populasinya. Peneliti menyoroti perlunya kajian lanjutan untuk menilai status konservasi pari cambuk bertutul Indo-Melayu tersebut.