Tapanuli Utara – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tapanuli Utara menuai keluhan dari orangtua murid. Salah seorang wali murid TK GKPI Tarutung Kota, J Sinaga (37), mengaku menemukan menu MBG berupa buah naga yang sudah busuk dan berulat saat diterima anaknya.
Kondisi tersebut diketahui setelah anaknya membawa pulang bingkisan MBG dari sekolah. Saat dibelah di rumah, buah naga tersebut terlihat sudah membusuk dan terdapat ulat di dalamnya.
“Begitu kami belah, buahnya sudah busuk dan berisi ulat. Kami sangat heran dengan kualitas makanan bergizi yang diberikan kepada anak-anak,” ujar J Sinaga, Jumat (23/1/2026).
Keluhan itu langsung disampaikan kepada pihak sekolah. Menurut J Sinaga, pihak TK GKPI Tarutung Kota mengakui bahwa sebagian menu buah naga memang ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi dan telah melaporkannya kepada pengelola dapur MBG, Yayasan Bisukma I Teras.
Selain buah busuk, J Sinaga mengungkapkan bahwa sebelumnya ia juga pernah menemukan menu MBG berupa roti yang sudah hancur seperti remah-remah di dalam kemasan plastik.
“Ini sudah yang kedua kalinya. Sebelumnya roti rusak, sekarang buah berulat. Apakah tidak ada pemeriksaan sebelum makanan dibagikan ke anak-anak?” keluhnya.
Ia menilai penyajian menu MBG terkesan kurang profesional dan tidak memperhatikan kualitas, padahal program tersebut diperuntukkan bagi anak-anak usia dini.
“Tolong lebih teliti dan profesional. Ini menyangkut kesehatan anak-anak,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, pemilik dapur MBG Bisukma I Tarutung, Erikson Sianipar, saat dikonfirmasi menyatakan akan melakukan pengecekan terkait laporan tersebut.
“Nanti saya cek, karena operasional di lapangan ditangani oleh SPPG,” ujarnya singkat.
Sementara itu, pemerhati pendidikan yang juga Ketua Lembaga Studi Advokasi dan Riset Anak Indonesia (ELSARAI), Edy Siburian, menyayangkan temuan menu MBG yang tidak layak konsumsi. Ia meminta pemerintah daerah segera melakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap dapur MBG yang bersangkutan.
“Ini tidak bisa dianggap sepele. Pemerintah harus mengevaluasi dapur MBG, apakah sudah memenuhi standar kelayakan atau justru dipaksakan,” katanya.
Ia menegaskan, kualitas dan keamanan makanan dalam program MBG harus menjadi perhatian utama agar tidak membahayakan kesehatan anak-anak.