Pencarian

Berbekal KUR BRI Rp 70 Juta, Perajin Rotan di Medan Ini Bertahan 47 Tahun di Tengah Sepinya Pasar

Minggu, 14 Juni 2026 • 13:53:31 WIB
Berbekal KUR BRI Rp 70 Juta, Perajin Rotan di Medan Ini Bertahan 47 Tahun di Tengah Sepinya Pasar
Aat dan timnya terus menghasilkan kerajinan rotan di Medan selama 47 tahun.

MEDAN — Suara ketukan palu dan gesekan rotan masih terdengar setiap hari dari sebuah rumah di Jalan Titi Papan, Gang Pemuda Nomor 5, Kecamatan Medan Petisah. Di tempat sederhana itulah Aat dan tujuh pekerjanya menyelesaikan pesanan kursi dan meja rotan. Usaha yang dirintis orang tuanya pada 1977 itu kini diteruskan Aat sejak tahun 2000.

“Semua kerajinan bisa dibuat. Tapi sekarang saya lebih banyak fokus membuat perabotan seperti kursi dan meja rotan,” ujar Aat saat ditemui di bengkel kerjanya.

Modal KUR BRI Jadi Penyelamat Saat Pesanan Sepi

Pada 2020, Aat memperoleh fasilitas KUR dari BRI sebesar Rp 70 juta. Tambahan modal itu, menurutnya, sangat krusial untuk menjaga ketersediaan bahan baku di saat omzet menurun. “Kalau kita punya modal, kita bisa stok bahan baku saat barang sedang tersedia. Itu sangat membantu,” katanya.

Bahan baku rotan sebagian besar didatangkan dari Surabaya dan Semarang. Aat juga memanfaatkan agen di Medan untuk menekan biaya produksi. “Kita cari yang lebih murah supaya biaya produksi bisa ditekan,” jelasnya.

Dari Keranjang Parsel hingga Kursi Hotel, Semua Dikerjakan

Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari keranjang parsel buah, dekorasi interior, hingga perabot rumah tangga dan kebutuhan hotel. “Semua yang berbau rotan bisa kami buat. Bahkan dekorasi untuk hotel atau tempat usaha juga bisa,” ujar Aat.

Pasar utama Aat masih di Pulau Sumatera. Permintaan biasanya meningkat menjelang hari-hari besar keagamaan, terutama untuk produk keranjang parsel. Ia juga pernah mengirim pesanan kursi hingga ke Malaysia.

Untuk satu kursi dengan desain standar, produksinya bisa mencapai 40 unit per bulan. Namun untuk model rumit, empat unit kursi saja bisa memakan waktu pengerjaan hingga satu minggu. Harga produk bervariasi, mulai Rp 15 ribu untuk keranjang kecil hingga puluhan juta rupiah untuk satu set meja dan bangku.

Sisa dari Kejayaan Sentra Rotan Medan yang Kini Menyusut

Aat masih ingat bagaimana kawasan tempat tinggalnya dulu dikenal sebagai sentra perajin rotan di Kota Medan. Hampir sepanjang jalan dipenuhi bengkel-bengkel kecil. Kini, banyak yang tutup. “Dulu hampir sepanjang jalan ini banyak pengrajin rotan. Sekarang banyak yang tutup karena modal, persaingan, dan keuntungan yang makin berkurang,” ujarnya.

Menurut Aat, usaha kerajinan rotan tidak hanya butuh keterampilan, tetapi juga modal besar. Ketika pesanan sepi, perajin tetap harus memiliki stok bahan baku dan biaya operasional. “Kalau pelanggan tidak ada, otomatis kita harus menyediakan modal lebih besar untuk pemasaran dan mempertahankan usaha,” katanya.

Kini, kapasitas produksinya menyesuaikan. Jika dulu mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja, sekarang hanya tersisa tujuh orang. Namun Aat tetap bertahan. “Kami lagi mengerjakan pesanan kursi. Kami juga terima permintaan dari pelanggan, mau model yang seperti apa kita kerjakan,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: disrupsi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks