SUMATERA UTARA — Houston Stadium, Selasa (30/6/2026) WIB, akan menjadi saksi bisu ambisi Samurai Biru membalaskan dendam masa lalu. Jepang tidak hanya berburu tiket ke babak 16 besar, tetapi juga ingin memutus rantai kegagalan di babak tos-tosan yang menghantui sejak Qatar 2022.
Moriyasu Ambil Alih Kendali Penalti, Bukan Sukarelawan Lagi
Pengalaman pahit melawan Kroasia masih membekas. Saat itu tiga pemain Jepang gagal mengeksekusi penalti, dan Moriyasu mengakui kesalahan membiarkan pemain menjadi sukarelawan. Kini pendekatannya berubah drastis.
"Kali ini, jika pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti, saya ingin menentukan urutan penendang daripada membiarkan para pemain menjadi sukarelawan seperti sebelumnya," ujar Moriyasu.
Pelatih berusia 57 tahun itu menegaskan dirinya yang akan memutuskan siapa penendang pertama hingga kelima. "Saya rasa saya sendiri yang akan mengambil keputusan dan menentukan siapa yang akan menjadi penendang penalti," tegasnya.
Kubo Dipastikan Absen, Skuad Tetap Percaya Diri
Jepang harus kehilangan Takefusa Kubo. Winger andalan Real Sociedad itu masih dalam masa pemulihan cedera dan tidak mengikuti sesi latihan utama. "Dia tidak akan bermain melawan Brasil. Kami ingin dia segera pulih, dan dia juga menginginkan hal yang sama," kata Moriyasu.
Meski tanpa Kubo, kepercayaan diri Jepang tidak surut. Kemenangan atas Jerman, Spanyol, dan Inggris dalam turnamen besar beberapa tahun terakhir menjadi modal psikologis. Moriyasu justru senang jika timnya terus disebut kuda hitam.
"Dalam jangka pendek kami percaya bisa menang dan kami yakin memiliki peluang untuk melakukannya, termasuk di Piala Dunia kali ini," tutur Moriyasu. "Beberapa orang mengatakan Jepang adalah tim kuda hitam, dan kami akan bermain dengan pemikiran itu."
Jadwal Padat vs Brasil: Istirahat Lebih Sedikit, Target Tetap Final
Jepang datang ke Amerika Utara dengan target bersejarah: menembus final Piala Dunia untuk pertama kalinya. Namun, tantangan langsung datang dari jadwal. Moriyasu mengakui perjalanan turnamen menguras energi dan Jepang memiliki waktu istirahat satu hari lebih sedikit dibanding Brasil.
Brasil, yang datang dengan status favorit, diyakini akan memanfaatkan keunggulan kebugaran. Namun, Jepang punya satu senjata baru: skenario adu penalti yang sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari, bukan sekadar harapan di menit-menit akhir.