Pencarian

Pemprov Sumut Susun Master Plan Kawasan Unggulan Perikanan, Prioritaskan Pantai Barat dan Timur pada 2026

Jumat, 18 September 2026 • 05:02:01 WIB
Pemprov Sumut Susun Master Plan Kawasan Unggulan Perikanan, Prioritaskan Pantai Barat dan Timur pada 2026

MEDAN — Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, Jenny Masniari Sinaga, menyatakan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap diprioritaskan di pantai barat dan pantai timur pada 2026. Kepulauan Nias menyusul pada 2027. Penetapan lokasi mengacu pada potensi dan produksi perikanan masing-masing daerah.

Produksi 2025 Capai 382.127,77 Ton

Data DKP Sumut mencatat total produksi perikanan sepanjang 2025 mencapai 382.127,77 ton. Target produksi 2026 ditetapkan 383.036,91 ton, dengan realisasi hingga triwulan II 2026 mencapai 200.931,45 ton.

Sejumlah daerah tercatat berproduksi tinggi pada 2025, antara lain Tapanuli Tengah, Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai. Data itu menjadi salah satu dasar penentuan kawasan unggulan.

"Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk menentukan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir. Nelayan kita berikan alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan, kemudian dibantu hilirisasinya hingga pengolahan," jelas Jenny dalam konferensi pers di Lobi Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Kamis (17/9/2026).

Wilayah Pengelolaan Perikanan 572: Nias hingga Pantai Barat

Untuk Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 572, pengembangan mencakup Kepulauan Nias yang terdiri atas Kabupaten Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli. Kawasan pantai barat meliputi Sibolga, Tapteng, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal.

Komoditas di kawasan tersebut antara lain cakalang, tongkol, tenggiri, tuna sirip kuning, kembung, layang, selar kuning, tembang, kuwe, dan bawal.

WPP 571: Sembilan Daerah di Pantai Timur

WPP 571 mencakup pantai timur, yakni Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara. Potensi komoditasnya meliputi kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung, dan layang benggol.

Jenny menyebut pengembangan kawasan unggulan tidak semata berorientasi pada peningkatan produksi. Program diarahkan pula untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, menjaga keberlanjutan ekosistem laut, dan memperkuat rantai usaha perikanan.

Kawasan Ikan Asin di Empat Daerah

Master plan juga merancang pengembangan kawasan unggulan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai.

"Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin," katanya.

Kampung Nelayan Merah Putih Bertambah Jadi 29 Wilayah

Pengembangan kawasan perikanan tangkap terintegrasi dengan program Kampung Nelayan Merah Putih. Pada 2025, program itu dibangun di empat wilayah: Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, dan Batubara.

Pada 2026, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sumut direncanakan mencakup 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di pantai barat.

Udang Vaname dan Rumput Laut Jadi Andalan Budidaya

Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut, Muhammad Riza Kurnia Lubis, menyatakan Sumut memiliki potensi besar dalam perikanan budidaya. Udang vaname menjadi salah satu komoditas unggulan yang hingga kini diekspor.

Pemprov Sumut juga memberi perhatian pada pengembangan rumput laut yang dinilai punya peluang pasar ekspor.

"Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi concern Sumut. Tahun ini kita prioritaskan rumput laut karena juga diminati pasar ekspor," ujar Riza.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: opungnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks