Pencarian

JPMorgan Setop Prediksi Harga Minyak, Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5%

Minggu, 20 September 2026 • 10:03:31 WIB
JPMorgan Setop Prediksi Harga Minyak, Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5%

SUMATERA UTARA — JPMorgan Chase & Co. resmi menghentikan prediksi dasar harga minyak dunia, langkah pertama yang dilakukan bank terbesar Amerika Serikat itu dalam memetakan komoditas paling krusial tersebut. Keputusan diambil karena perang AS-Israel melawan Iran tak kunjung menemukan titik penyelesaian. Yield Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun ikut menembus level psikologis 5%.

Tim analis JPMorgan menyatakan tidak lagi mampu memodelkan arah harga minyak akibat ketidakpastian geopolitik yang memanjang. Manuver mendadak Presiden AS Donald Trump disebut membuat model pasar minyak yang biasa mereka pakai kehilangan relevansi.

"Kami sama sekali tidak tahu bagaimana cara memodelkan akhir dari konflik ini (endgame)," tulis tim analis JPMorgan dalam catatan riset resminya.

Garis Merah yang Dianggap Tidak Akan Dilanggar

Sebelum eskalasi berlanjut, analis pasar meyakini ada batas yang tidak akan dilewati pemerintahan Trump. Harga minyak diperkirakan dijaga di bawah USD100 per barel, sementara bensin di bawah USD5 per galon.

Asumsi itu buyar. Trump justru meningkatkan retorika perang dan mengancam akan "mengumpulkan dan memusnahkan" (annihilate) pemerintah Iran. Pasar kehilangan jangkar untuk menghitung premi risiko konflik.

Yield US Treasury 10 Tahun Sentuh 5%

Tekanan tidak berhenti di pasar minyak. Imbal hasil Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun menyentuh angka psikologis 5%, memicu kecemasan tinggi di Wall Street dan Washington terkait stabilitas sistem keuangan global.

Level tersebut menjadi sinyal bahwa investor menuntut kompensasi lebih besar untuk memegang obligasi pemerintah AS. Ketegangan di pasar obligasi biasanya merembet ke biaya pinjaman korporasi dan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Proyeksi USD150 per Barel Tidak Terjadi

JPMorgan mengakui sejumlah proyeksi ekstrem mereka sebelumnya tidak terwujud. Lonjakan harga minyak hingga USD150 per barel yang sempat diperkirakan tidak terjadi.

Penyebabnya adalah fenomena demand destruction, yakni penurunan permintaan akibat harga yang terlalu mahal. Konsumen dan industri mengurangi konsumsi sebelum harga sempat menembus level ekstrem tersebut.

Yang Perlu Dicermati Investor

Ketidakpastian arah konflik membuat bank-bank besar kehilangan pegangan dalam menyusun proyeksi. Bagi investor, kondisi ini berarti premi risiko yang lebih tinggi pada aset energi dan obligasi.

Harga minyak yang bergerak tanpa pola prediksi membuat lindung nilai (hedging) menjadi lebih mahal. Pergerakan yield US Treasury juga akan menjadi acuan arus modal ke pasar emerging, termasuk Bursa Efek Indonesia.

JPMorgan belum memberikan indikasi kapan prediksi dasar harga minyak akan diterbitkan kembali. Keputusan itu kemungkinan menunggu kejelasan arah penyelesaian konflik AS-Israel melawan Iran.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks