SUMATERA UTARA — Steve Jobs meninggal 15 tahun lalu setelah lama berjuang melawan kanker pankreas, dan hingga kini tak ada satu pun figur industri teknologi yang dianggap layak menyandang gelar "Steve Jobs berikutnya". Penilaian itu muncul karena tak ada orang yang bisa memenuhi seluruh kombinasi sifatnya: visioner, perfeksionis pada detail, sekaligus peduli pada orang yang memakai produknya. Standar ganda inilah yang membuat warisannya sulit diwariskan ke generasi penerus.
Peringatan 15 tahun kepergian Steve Jobs kembali membuka diskusi lama soal sosok penggantinya di industri teknologi. Setiap tahun, kenangan atas pendiri Apple itu selalu kembali mengalir, dan tahun ini pun tidak berbeda.
Banyak hal yang pernah dikatakan tentang Jobs sudah terucap berkali-kali. Namun ada satu sisi warisannya yang jarang dibahas: ia memperkenalkan gagasan sederhana kepada ratusan juta orang, yakni membuat sesuatu yang hebat untuk orang lain.
Membuat Produk Hebat sebagai Bentuk Penghargaan
Jobs menjalankan prinsip itu dalam skala yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan orang. Ia menyebutnya sebagai bentuk "penghargaan terhadap spesies manusia".
Kita sering mendengar keyakinannya untuk "membuat penyok di alam semesta". Yang kurang dibicarakan adalah bahwa ada banyak cara untuk melakukannya, di berbagai tingkat, dengan motivasi yang berbeda-beda.
Makna "penyok di alam semesta" bisa berbeda bagi setiap orang. Bagi Jobs, itu berarti membuat alat yang membantu siapa pun berkarya dan merasakan perhatian yang tertanam dalam produk tersebut.
Pelajaran dari Ron Johnson dan Apple Store Pertama
Buku baru Ron Johnson berjudul "Shop Different" mengajak pembaca kembali ke masa persiapan pembukaan Apple Store pertama. Buku itu menggambarkan Jobs sebagai sosok rumit, tetapi teliti dan penuh pertimbangan.
Jobs dikenang karena dorongannya agar orang bekerja maksimal. Yang juga jelas dari kisah itu: ia sangat suka belajar dari orang-orang yang ia dorong tersebut.
Ron Johnson mengaku mengusulkan gagasan "mencintai pelanggan" saat menyusun filosofi ritel Apple. Jobs awalnya tidak nyaman dengan kata "cinta" dalam konteks itu.
Bertahun-tahun kemudian, dalam konferensi pers iPhone 4 soal antennagate, Jobs menampilkan slide sederhana bertuliskan "We love our users". Menilik ke belakang, rasa peduli itu sepertinya sudah ada sejak awal, meski Jobs belum menyadarinya.
Mengapa Tak Ada yang Bisa Menjadi "Steve Jobs Berikutnya"
Sejak Jobs wafat, julukan "Steve Jobs berikutnya" sering disematkan ke banyak tokoh. Cara paling jujur menilai klaim itu adalah melihat mereka yang mengenalnya paling dekat, karena merekalah yang paling paham motivasinya.
Tidak ada orang di industri ini yang mendekati gelar tersebut karena tak seorang pun bisa memenuhi semua kriterianya. Budaya teknologi hari ini pun dinilai belum tentu mampu melahirkan sosok dengan kombinasi sifat luar biasa itu.
Seseorang bisa menjadi visioner, membuat produk hebat, dan meninggalkan jejak besar. Namun Jobs punya lebih dari itu: ia peduli pada setiap detail, belajar rendah hati, bertanggung jawab, dan fokus membuka kreativitas orang lain.
Jobs tidak mengejar jumlah tayangan atau banyaknya konten yang dikumpulkan. Ia ingin membuat produk terbaik yang membantu orang mengembangkan kreativitas mereka. Standar tinggi memang bagian dari kesuksesannya, tetapi hatinya juga berperan besar.
Warisannya: Teknologi yang Ambisius tapi Tetap Manusiawi
Mencari "Steve Jobs berikutnya" justru melewatkan hal yang membuatnya istimewa. Titik pentingnya bukan mencari pengganti, melainkan mengingat ajarannya: teknologi bisa ambisius dan mengubah dunia sekaligus tetap manusiawi.
Produk terbaik didorong oleh kecintaan pada orang yang akan memakainya, bukan sekadar metrik bisnis. Ada banyak cara membuat "penyok di alam semesta", tetapi Jobs merujuk pada satu cara: membuat alat luar biasa yang membantu siapa pun berkarya.
Bagi pembaca di Indonesia, refleksi ini relevan di tengah derasnya peluncuran gadget baru setiap bulan. Spesifikasi dan angka penjualan memang penting, tetapi perhatian pada pengalaman pengguna tetap jadi pembeda antara produk yang laku dan produk yang benar-benar diingat.