Pencarian

Danantara Benahi 7 BUMN Karya, HIPMI Ingatkan Nasib Vendor Kecil

Selasa, 06 Oktober 2026 • 12:33:31 WIB
Danantara Benahi 7 BUMN Karya, HIPMI Ingatkan Nasib Vendor Kecil
Danantara tengah menata tujuh BUMN Karya, termasuk Hutama Karya, Waskita Karya, Wijaya Karya, Adhi Karya, PP, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya.

SUMATERA UTARA — Badan Pengelola Investasi Danantara tengah menata tujuh BUMN Karya sekaligus, dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta proses itu tidak berhenti pada merger atau perbaikan neraca. Kelancaran pembayaran vendor, subkontraktor, dan supplier kecil dinilai jadi penentu apakah penyehatan ini berhasil atau justru memindahkan masalah ke rantai pasok.

Paragraf pembuka: Tujuh perusahaan pelat merah yang masuk daftar penataan adalah PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero). Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anthony Leong menilai Indonesia memang butuh BUMN konstruksi yang sehat dan kuat untuk menggarap proyek strategis, tetapi manfaatnya harus sampai ke lapisan usaha paling bawah.

Mengapa Vendor Kecil Paling Rentan

Bagi perusahaan besar, keterlambatan pembayaran masih bisa dikelola dengan kas internal atau fasilitas bank. Situasinya berbeda untuk kontraktor daerah dan supplier kecil.

"Keterlambatan beberapa bulan bisa langsung mengganggu modal kerja, pembayaran gaji, bahkan kelangsungan usahanya. Karena itu restrukturisasi harus sekaligus menjaga kesehatan seluruh rantai pasok," kata Anthony dalam keterangannya (5/10).

Peringatan itu menyasar titik yang sering luput dalam pembenahan BUMN: arus kas di hilir. Vendor dan subkontraktor umumnya bekerja dengan margin tipis dan tidak punya bantalan modal untuk menahan tagihan yang tertunda berbulan-bulan.

Merger dan Perbaikan Neraca Tidak Cukup

Anthony menegaskan dukungan HIPMI terhadap penyehatan BUMN Karya, namun mengingatkan agar prosesnya tidak berhenti di ranah korporasi.

"Proses ini jangan berhenti pada merger atau perbaikan neraca. Dampaknya harus dirasakan sampai kepada kontraktor swasta, pengusaha daerah, vendor, supplier, dan UMKM yang selama ini menjadi bagian dari rantai industri konstruksi," ujarnya.

Ia juga menyoroti soal pembagian peran. BUMN disebutnya cocok fokus pada proyek strategis dan kompleks yang butuh pembiayaan serta teknologi berskala besar. Sementara kontraktor swasta nasional dan pengusaha daerah tetap perlu ruang lewat proyek tertentu, kemitraan, maupun rantai pasok.

"Jangan sampai BUMN yang semakin besar justru membuat ruang pengusaha nasional semakin kecil. BUMN yang sehat seharusnya menjadi lokomotif yang menarik lebih banyak perusahaan swasta masuk ke dalam rantai proyek, bukan berjalan sendiri," tegas Anthony.

Efek Berantai ke Semen, Baja, hingga Tenaga Kerja

Belanja infrastruktur menyentuh banyak sektor sekaligus. Anthony menyebut industri semen, baja, alat berat, transportasi, jasa engineering, konstruksi, hingga tenaga kerja di daerah sebagai pihak yang ikut merasakan dampaknya.

Karena itu ia menilai keberhasilan penyehatan BUMN Karya tidak bisa diukur hanya dari penurunan utang atau perbaikan laporan keuangan.

"Ukuran keberhasilannya harus lebih luas: apakah perusahaan menjadi sehat, apakah proyek berjalan tepat waktu, apakah vendor dibayar dengan baik, apakah keterlibatan pengusaha nasional meningkat, dan apakah semakin banyak lapangan kerja yang tercipta," kata Anthony.

Ia menambahkan, konsolidasi perlu diikuti penguatan tata kelola, disiplin dalam memilih proyek, serta pemanfaatan teknologi untuk mendongkrak produktivitas dan efisiensi industri konstruksi.

Taruhan Kepercayaan ke Perbankan dan Investor

Menurut Anthony, BUMN Karya yang sehat akan menumbuhkan kepercayaan perbankan, investor, mitra usaha, dan pasar. Restrukturisasi yang dijalankan dengan baik dinilainya bukan sekadar menyelesaikan persoalan masa lalu, melainkan membangun fondasi industri konstruksi yang lebih kompetitif.

"Kalau restrukturisasi ini dilakukan dengan baik, kita bukan hanya menyelesaikan persoalan masa lalu, tetapi membangun fondasi baru industri konstruksi Indonesia yang lebih kompetitif," tutupnya.

Bagi pasar, penataan tujuh emiten dan non-emiten di bawah Danantara menjadi ujian apakah konsolidasi kali ini benar-benar memperbaiki ekosistem, atau hanya memindahkan beban dari neraca BUMN ke usaha kecil yang memasok mereka.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks