Pencarian

Kabid Humas Matahari Pagi Sumut Soroti Fenomena Hijrah Premium di Ballroom Hotel Berbintang

Minggu, 11 Oktober 2026 • 07:31:01 WIB
Kabid Humas Matahari Pagi Sumut Soroti Fenomena Hijrah Premium di Ballroom Hotel Berbintang
Kabid Humas Matahari Pagi Sumut menilai kajian keagamaan bertema cinta dan jodoh di ballroom hotel berbintang menggeser makna dakwah ke pusaran konsumerisme perkotaan.

MEDAN — Kabid Humas Matahari Pagi Sumatera Utara menilai fenomena kajian keagamaan bertema cinta dan jodoh yang digelar di ballroom hotel berbintang telah menggeser makna dakwah dari ruang sakral ke pusaran pasar konsumerisme perkotaan. Peserta rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah untuk duduk di kursi empuk berselimut ambal tebal, ditemani cahaya lampu gantung kristal dan layar LED raksasa.

Penceramah muda berpenampilan necis membedah rumus mencari jodoh impian, diselingi humor ramah milenial dan kutipan ayat. Publik menyebut tren ini sebagai bagian dari "Hijrah Premium".

Dari Nilai Guna ke Nilai Tukar

Dalam perspektif sosiolog Bryan S. Turner, ketika ajaran agama dikemas bersanding dengan kenyamanan fasilitas hotel, goodie bag, dan sesi meet and greet, nilai guna keagamaan perlahan bergeser menjadi nilai tukar. Agama tak lagi sekadar ritual spiritual di ruang sakral masjid.

Agama telah masuk ke dalam pusaran pasar budaya konsumerisme perkotaan. Batas antara agama dan bisnis hiburan pun makin sulit dibedakan.

Di tangan pendakwah populer dan pengelola acara, galau asmara anak muda perkotaan disulap menjadi komoditas ekonomi yang menguntungkan. Seminar bertajuk ta'aruf dan jodoh idaman di hotel mewah menjual janji penawar patah hati lewat lembaran tiket berbayar.

Kajian Berbayar sebagai Penanda Status

Menghadiri kajian berbayar di hotel bintang lima tak lagi sekadar aktivitas spiritual murni. Kegiatan itu menjelma menjadi instrumen penanda status.

Menenteng botol minum ramah lingkungan, mengenakan pakaian muslimah premium, dan mengunggah potret suasana ballroom ke media sosial menjadi paket modal simbolik. Identitas baru yang ditegaskan: muslim yang taat sekaligus terpelajar, mapan secara finansial, dan berasal dari kalangan kelas atas.

Komodifikasi Emosi di Materi Dakwah

Hal paling riskan dari fenomena ini bukan lokasi acara atau harga tiketnya, melainkan komodifikasi emosi di dalam materi dakwah. Eva Illouz dalam studi Emotional Capitalism mengungkapkan bagaimana perasaan manusia—termasuk rasa kesepian, cemas akan masa depan, dan dahaga akan cinta—dikelola kapitalisme menjadi komoditas pasar.

Tema kajian yang diangkat cenderung seragam: cara cepat menjemput jodoh, merawat cinta dalam ta'aruf, atau penawar lara akibat patah hati. Pendakwah bertransformasi menjadi gabungan figur spiritual dan life coach.

Di satu sisi, ini memberikan validasi emosional yang dibutuhkan anak muda. Namun ada harga mahal yang harus dibayar: pendangkalan narasi keagamaan. Agama berisiko direduksi sebatas terapi instan untuk urusan asmara pribadi.

Dimensi agama yang lebih substansial—keadilan sosial, empati pada yang tertindas, dan etika keumatan—terpinggirkan karena dianggap tidak memiliki daya jual di pasar keagamaan perkotaan.

Ancaman Segregasi Spiritual

Isu utama bukan persoalan boleh atau tidak seorang penceramah mengambil upah atau menyewa ruang komersial. Sejarah Islam mencatat dinamika panjang mengenai profesionalisme dakwah.

Poin krusialnya terletak pada ancaman terkikisnya sifat kesetaraan dalam Islam. Jika ruang belajar agama semakin terkotak berdasarkan kemampuan finansial, segregasi spiritual akan lahir.

Orang berkantong tebal mendapat akses ilmu dengan kenyamanan ekstra dan penceramah populer. Mereka yang kurang beruntung harus puas dengan fasilitas seadanya. Agama yang lahir untuk meruntuhkan sekat kelas sosial justru berisiko dimanfaatkan mempertegas sekat tersebut.

Ketika Pasar Menyaring Narasi Agama

Ketika agama berkelindan dengan industri hiburan dan relaksasi perkotaan, terjadi kompromi halus namun mematikan. Penceramah yang tampil di panggung ballroom hotel terikat secara tidak langsung oleh hukum pasar: pembeli adalah raja dan kepuasan pelanggan adalah prioritas.

Dalam ekosistem yang menuntut rating, penjualan tiket, dan ulasan positif di media sosial, narasi agama yang disampaikan disaring secara sistematis. Materi ceramah dipoles agar tetap manis, menenangkan, dan feel-good.

Tema keagamaan yang subversif—kritik atas ketimpangan ekonomi, kepedulian pada fakir miskin dan anak yatim—kehilangan panggung karena dianggap tidak sejalan dengan selera pasar. Kabid Humas Matahari Pagi Sumatera Utara menyoroti kondisi ini sebagai peringatan bagi umat agar tidak membiarkan dakwah kehilangan ruh keadilannya.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: utamanews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks