SUMATERA UTARA — Komedian Romesh Ranganathan mengungkap sisi lain dirinya sebagai penggemar berat Arsenal dalam wawancara dengan FourFourTwo. Bintang The Traitors itu bercerita soal warisan kegilaan sang ayah, momen Cesc Fabregas di FA Youth Cup, hingga alasan ia memilih Pierre-Emerick Aubameyang sebagai teman sekamar.
Romesh Ranganathan bukan sekadar komedian yang sedang naik daun lewat acara The Traitors di BBC. Pria kelahiran Crawley itu ternyata seorang Gooner garis keras, warisan dari sang ayah yang berasal dari Sri Lanka. Dalam wawancara bersama FourFourTwo, ia membuka cerita-cerita di balik kecintaannya pada Arsenal.
Warisan Kegilaan Sang Ayah di Pub Bertema Arsenal
Ranganathan mengaku sering dituduh bukan penggemar Crawley Town karena lahir dan besar di kota tersebut. Ia menimpakan "kesalahan" itu kepada ayahnya yang saat pertama datang dari Sri Lanka menetap di London utara dan langsung menjadi Gooner militan.
Sang ayah bahkan membuka pub bertema Arsenal di East Grinstead. Para pelanggan datang bukan hanya untuk menonton pertandingan, tapi juga melihat ayahnya kehilangan kendali saat Arsenal bermain.
"Ini terjadi ketika kami masih bagus, jadi bayangkan bagaimana dia saat kami mulai payah," ujar Ranganathan mengenang.
Cesc Fabregas dan Laga 9-0 yang Tak Terlupakan
Momen pertama Ranganathan melihat Cesc Fabregas terjadi pada 2003, saat Arsenal melawan Crawley Town di Piala FA Youth. Ia menyebut para pemain muda Arsenal saat itu luar biasa, tapi Fabregas yang masih 16 tahun berada di level berbeda.
Gelandang Spanyol itu mencetak gol dari tengah lapangan, sebuah aksi yang disebut Ranganathan "benar-benar gila". Arsenal menang 9-0 di laga tersebut.
Ian Wright dan Pelajaran Berharga di Depan Idola
Ian Wright selalu menjadi idola Ranganathan, baik sebagai pemain maupun pribadi. Namun ia belajar bahwa bertemu idola bisa berujung memalukan.
Suatu pagi di bar hotel setelah malam panjang bersama Kevin Bridges, ia melihat Wright. Dalam kondisi masih mabuk, ia justru berharap tidak perlu bertemu. Wright tiba-tiba menghampiri dan memperkenalkan diri, sementara Ranganathan hanya bisa mengeluarkan kata-kata mengalir tanpa arah.
"Bahkan Kevin bilang, 'Ya Tuhan, obrolanmu tadi benar-benar mengerikan'," kenangnya. Sejak itu ia bertekad menyiapkan "materi" untuk pertemuan berikutnya dengan Wright.
Hector Bellerin dan Pembelaan soal Kepribadian Pemain
Pemain favorit Ranganathan saat ini adalah Hector Bellerin. Ia sudah pernah bertemu dan menilai bek Spanyol itu benar-benar mencintai Arsenal.
Ranganathan juga menyoroti ekspektasi berlebihan publik terhadap pemain. Menurutnya, kemampuan fisik pemain sudah luar biasa, sehingga menuntut mereka fasih berbicara di depan publik terasa berlebihan.
"Kita tidak mencela pembicara hebat hanya karena mereka tidak bisa menendang bola, kan?" ujarnya. Ia menilai Bellerin cerdas dan sangat lucu.
Momen Terburuk di Lapangan: Dihina Usai Gagal Mencetak Gol
Saat masih menjadi guru, Ranganathan pernah dipaksa ikut pertandingan tahunan antara siswa kelas enam dan staf sekolah. Ia masuk sebagai pemain pengganti yang enggan, lalu menyia-nyiakan peluang emas dengan tendangan melambung di atas mistar.
Hinaan yang ia terima setelahnya disebutnya sebagai yang terburuk sepanjang hidupnya, bahkan melebihi cemoohan di panggung komedi. Selama sepekan ia tidak berani masuk ruang guru atau berjalan di sekitar sekolah.
Dennis Wise, Aubameyang, dan Fantasi Lima-a-Sisi
Ranganathan mengaku kagum pada Dennis Wise meski menyebutnya "prick" dalam arti positif. Saat laga Arsenal melawan Chelsea di Highbury, ia terkesan bagaimana Wise terus mengganggu pemain lawan dengan provokasi yang tak terlihat di televisi.
Untuk teman sekamar, ia memilih Aubameyang. Rencananya, ia akan memberikan hiburan terbaik agar striker Gabon itu betah dan tidak tergoda pindah ke Real Madrid.
Dalam tim lima-a-sisi fantasi, ia memasang Gianluigi Buffon di gawang karena penampilannya yang rock and roll, Thierry Henry di depan, Ronaldinho karena kompilasi YouTube-nya terbaik, dan Martin Keown di belakang. Ranganathan mengaku akan berdiri di samping Keown untuk menambal pertahanan, meski berisiko kena omel sepanjang pertandingan.