SUMATERA UTARA — Rupiah dibuka melemah 0,43% ke Rp17.480/USD pada pagi hari, sebelum kemudian mencapai level terlemah Rp17.500/USD pada pukul 9.15 WIB, menurut data Refinitiv. Penguatan dolar AS (DXY naik 0,21% ke 98,115) mencerminkan aksi pemangkasan risiko global investor seiring dengan memburuknya prospek resolusi konflik AS-Iran di Timur Tengah.
Presiden Donald Trump menyatakan negosiasi gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April kini "di ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington. Impasse terjadi karena tuntutan Iran jauh lebih ambisius: Teheran mempersyaratkan penghentian konflik di semua front (termasuk Lebanon), kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan restorasi ekspor minyak secara penuh.
Lebih kritis lagi, Iran menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz—jalur yang biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf merespons keras dengan memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons "setiap agresi" AS. Trump menggambarkan respons Iran sebagai "sama sekali tidak dapat diterima," mengisyaratkan negosiasi akan bertahan dalam zone abu-abu berbahaya tanpa akhir yang jelas.
Ketidakpastian kontrol Hormuz langsung memukul pasar energi. Harga minyak Brent Crude meloncat lebih dari 3% ke atas US$104 per barel ketika arus kapal melalui selat menyusut drastis. Produsen minyak di kawasan terpaksa memangkas ekspor demi menghindari risiko kapal tertangkap atau tersanksi, memicu kekhawatiran pasokan global yang akan mendorong inflasi energi lebih tinggi.
Washington menambah tekanan dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China—mempertajam competetion antara dua negara atas kontrol energi strategis. Sementara itu, survei menunjukkan dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan tujuan perang tersebut dengan cukup jelas, menambah risiko perubahan arah kebijakan yang tiba-tiba.
Bagi Indonesia, melemahnya rupiah dan naiknya harga minyak membentuk skenario stagflasi mini. Impor energi lebih mahal, sementara ekspor komoditas menghadapi headwind dari pelemahan dolar real (dolar nominal kuat tapi daya beli global melemah). Perusahaan dengan utang dalam dolar—dari manufaktur hingga properti—akan menghadapi beban bunga yang lebih berat ketika rupiah melemah.
Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada Rabu, dengan isu Iran dan kontrol perdagangan energi diperkirakan menjadi salah satu agenda utama. Investor regional sedang menunggu sinyal apakah negosiasi akan dilanjutkan atau eskalasi militer siap terjadi—dua skenario yang akan membentuk volatilitas kurs dan komoditas dalam minggu-minggu mendatang.