SUMATERA UTARA — Kepindahan Anthony Gordon ke Camp Nou bukan sekadar transfer biasa. Ini adalah pernyataan ambisi Hansi Flick yang ingin membangun lini depan baru bersama Lamine Yamal dan Raphinha. Namun, di balik kecepatan dan agresivitas Gordon, ada sisi lain yang membuat suporter Newcastle justru lega melepasnya.
Pertandingan Newcastle vs Benfica di Liga Champions Oktober lalu menjadi titik balik karier Gordon. Ia mencetak satu gol, satu assist, dan membuat pertahanan lawan kocar-kacir. Usai laga, Jose Mourinho langsung memeluknya dan berbisik, "You are too much."
"Itu pujian besar bagi saya. Saat kecil, Jose Mourinho adalah manajer favorit saya," ujar Gordon. Momen itu menggambarkan tipe pemain yang akan didapat Barcelona: langsung, intens, dan sulit dihentikan dalam duel satu lawan satu.
Perbedaan performa Gordon di dua kompetisi sangat mencolok. Di Liga Champions musim lalu, ia mencetak 10 gol dalam 12 penampilan. Namun, lima di antaranya berasal dari penalti. Di Premier League, kontribusinya jauh lebih rendah: enam gol (tiga penalti) dan hanya dua assist dari 26 laga.
"Saya suka Liga Champions. Kompetisi ini mengeluarkan kelebihan dari diri pemain," kata Gordon. Pengakuan ini sempat membuat fans Newcastle geregetan, apalagi saat timnya finis di peringkat 12 klasemen akhir.
Gordon bukan pemain yang dikenal diplomatis. Saat Newcastle unggul 5-0 atas Qarabag di Baku, ia memaksa mengambil penalti untuk melengkapi empat golnya. Kieran Trippier marah besar karena ingin memberikan kesempatan itu ke Nick Woltemade yang sedang paceklik gol. Keduanya nyaris terlibat keributan di lorong stadion.
Tak hanya itu, Gordon juga blak-blakan menyalahkan rekan setimnya usai Newcastle kalah 1-2 dari Sunderland. "Sunderland bukan tim bagus dibanding kami. Mereka melakukan pressing man-to-man dengan dua pemain selalu menjaga saya. Seharusnya kami punya pemain bebas, tapi tidak pernah memanfaatkannya," ucapnya. Pernyataan itu tidak populer di kalangan pemain dan penggemar.
Flick kemungkinan besar akan menempatkan Gordon sebagai kompetitor langsung Raphinha di sisi kiri. Kecepatan dan kemampuannya menusuk ke belakang pertahanan menjadi senjata utama. Namun, gaya bermainnya yang langsung dan enggan memperlambat tempo bisa menjadi masalah di skema tiki-taka khas Barcelona.
Gordon bukan tipe pemain yang sabar membangun serangan. Ia lebih suka bola dikirim ke ruang kosong, lalu berlari dan menusuk. Jika Flick bisa mengelola egonya, kombinasi Gordon, Yamal, dan Raphinha bisa menjadi mimpi buruk bagi pertahanan lawan. Jika tidak, Camp Nou bisa menjadi panggung baru bagi kontroversi yang sudah melekat padanya.