MEDAN — Geliat ekonomi di kawasan terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara mulai kembali terlihat. Data terbaru menunjukkan UMKM yang bertahan dan bangkit memanfaatkan platform digital sebagai jalur pemasaran utama.
Dari total 631 produk UMKM yang dipasarkan secara daring, tercatat 11.093.689 transaksi terjadi di Sumatera Utara. Angka ini jauh melampaui capaian Aceh yang mencatat 94.300 transaksi dari 1.396 produk, maupun Sumatera Barat dengan 3.524.704 transaksi dari 101 produk.
Percepatan pemulihan tidak lepas dari penyaluran bantuan stimulan ekonomi bagi masyarakat terdampak. Di Sumatera Utara, realisasi bantuan telah mencapai Rp 56,615 miliar atau sekitar 90 persen dari total alokasi Rp 62,900 miliar. Sementara itu, Aceh menyalurkan Rp 250,745 miliar dari Rp 254,440 miliar, dan Sumatera Barat merealisasikan Rp 16,835 miliar dari total Rp 17,740 miliar.
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyatakan penguatan sektor usaha mikro menjadi prioritas dalam strategi pemulihan permanen pascabencana. Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk) Pascabencana Sumatera mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan usaha mikro.
"Kurang lebih pengembangan usaha mikro sekitar Rp 900 miliar sampai Rp 1 triliun masuk dalam Renduk. Bantuan ini untuk pengembangan usaha mikro bagi mereka yang belum terakses perbankan. Targetnya sekitar 200 ribu pengusaha mikro selama dua tahun," ujar Maman usai menghadiri rapat Satgas PRR di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Peningkatan transaksi digital ini menjadi indikator bahwa kemampuan adaptasi pelaku UMKM terhadap ekosistem digital mulai membuahkan hasil. Aktivitas ekonomi rumah tangga penyintas bencana perlahan pulih seiring berjalannya proses rehabilitasi dan rekonstruksi di tiga provinsi tersebut.