SUMATERA UTARA — Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa petugas penyerapan gabah tidak mengenal hari libur. Mereka harus berada di lokasi panen setiap hari untuk memastikan hasil petani terserap optimal.
"Kalau (petugas) yang serap gabah, enggak ada WFH dia. Enggak ada tanggal merah dia. Petani tiap hari panen, kalau ada panen ya, dia (petugas penyerap gabah) ada di situ," kata Rizal usai pemotongan hewan kurban di Jakarta, Jumat (19/6).
Tak hanya petugas lapangan, pekerja gudang Bulog juga beroperasi penuh 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Aktivitas ini dipicu volume pasokan gabah yang melonjak signifikan sepanjang musim panen tahun ini.
Rizal mengakui, pekerja gudang nyaris tanpa waktu istirahat karena harus menangani arus masuk gabah dan beras dalam jumlah besar setiap hari. Saat ini, sebagian besar dari total kapasitas gudang Bulog yang mencapai 4 juta ton sudah terisi penuh.
"Sekarang kita cari tambahan (sewa) gudang-gudang (swasta kapasitas) 2 juta ton," ujar dia.
Rizal menambahkan, adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026 turut berdampak positif terhadap mutu beras nasional. Inpres tersebut menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen di Rp6.500 per kilogram dan menargetkan pengadaan 4 juta ton setara beras sepanjang 2026.
Pengawasan kualitas yang lebih ketat membuat stok beras pemerintah lebih baik. "Dampaknya sekarang bagus, berasnya lebih bagus. Kalau kemarin mohon maaf ada yang rendemennya rendah," kata Rizal, merujuk pada temuan sebelumnya soal gabah berkualitas buruk yang menurunkan mutu serapan.
Untuk menjaga transparansi, Bulog memperkuat sistem jemput gabah langsung ke lokasi panen dengan pendampingan Babinsa. Langkah ini meminimalkan praktik kecurangan di lapangan.
Dengan total pegawai organik hanya sekitar 4.000 orang, Bulog mengandalkan tenaga outsourcing dan mitra maklon untuk memperkuat penyerapan. Dari total sekitar 10.000 pekerja secara nasional, hanya sekitar 3.000 orang yang benar-benar diterjunkan ke lapangan.
Hingga akhir Mei 2026, Bulog mengelola stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 5,3 juta ton. Angka ini menjadi bantalan ketahanan pangan nasional sekaligus bukti meningkatnya kepercayaan petani terhadap Bulog sebagai penyangga pangan pemerintah.