SUMATERA UTARA — Tekanan terhadap mata uang Garuda pagi ini tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh mata uang utama Asia dan negara maju kompak berada di zona merah. Yen Jepang melemah 0,14 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,71 persen. Dari Eropa, euro melemah 0,12 persen, sementara franc Swiss turun 0,27 persen terhadap dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah saat ini masih dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama menjadi penentu: pertama, perkembangan negosiasi AS-Iran yang masih limbung; kedua, antisipasi data ekonomi domestik yang akan dirilis besok.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan. Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman.
Lukman memperkirakan rentang pergerakan rupiah hari ini berada di Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Artinya, level Rp17.844 yang tercatat pada pembukaan pagi ini sudah berada di luar estimasi atas analis, mengindikasikan tekanan jual yang cukup agresif sejak awal sesi.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026 tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebutkan, ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah memang menjadi pemicu utama, namun ada faktor musiman yang memperparah kondisi.
"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).
BI mencatat peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen. Di saat yang sama, arus masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas, membuat tekanan permintaan valas semakin terasa.
Meski demikian, BI menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi di pasar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.
Bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS, pelemahan rupiah ke level Rp17.844 berarti beban biaya dan cicilan utang semakin membengkak. Sementara bagi eksportir, kurs yang lebih lemah justru menguntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Dari sisi pasar modal, pelemahan rupiah yang berkepanjangan biasanya menjadi sentimen negatif bagi IHSG, terutama bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap nilai tukar seperti perbankan, properti, dan konsumer. Investor asing cenderung wait and see atau melakukan aksi jual jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
Data inflasi dan neraca perdagangan yang akan dirilis besok menjadi katalis penting berikutnya. Jika inflasi terkendali dan neraca perdagangan masih surplus, rupiah berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, jika data mengecewakan, tekanan terhadap mata uang Garuda bisa berlanjut ke level yang lebih dalam.