DELISERDANG — Bobby Nasution mengajak seluruh ASN di lingkungan Pemprov Sumut untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam setiap pelayanan publik. Menurutnya, semangat Pancasila harus tercermin dalam tugas pemerintahan sehari-hari, bukan sekadar seremoni tahunan.
Dalam pidato yang dibacakan Bobby, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menyebut bahwa Indonesia mampu berdiri kokoh di tengah ancaman fragmentasi global. Keberhasilan menjaga persatuan dari Sabang sampai Merauke menjadi bukti nyata kekuatan Pancasila.
“Pancasila adalah jangkar moral kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik,” kata Yudian dalam pidatonya.
Yudian secara khusus menitipkan pesan kepada para menteri dan kepala daerah. Ia meminta agar setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan prinsip keadilan sosial dan tidak meninggalkan kelompok masyarakat paling bawah.
“Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan,” ujar Yudian.
Ia juga mengingatkan pentingnya melawan intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan.
Bagi warga Sumatera Utara, implementasi nilai Pancasila diharapkan tidak berhenti pada pidato. Bobby Nasution menegaskan bahwa pelayanan publik yang adil dan merata adalah bentuk nyata pengamalan sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Upacara yang digelar di Lapangan Astaka, Jalan Pancing, itu dihadiri Wakil Gubernur Sumut Surya, Ketua TP PKK Sumut Kahiyang Ayu, Penjabat Sekretaris Daerah Sulaiman Harahap, serta jajaran Forkopimda. Personel TNI, Polri, ASN, dan pelajar turut memadati lokasi.
Bobby menginstruksikan agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menginternalisasi nilai Pancasila dalam setiap program kerja. Tidak ada toleransi bagi kebijakan yang diskriminatif atau merugikan kelompok rentan.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi momentum refleksi, bukan sekadar ritual tahunan. “Api Pancasila harus tetap menyala dalam jiwa setiap insan Indonesia,” tutup Yudian dalam pidatonya.