MEDAN — Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution resmi menandatangani nota kesepahaman tentang jejaring pengampuan mata bersama Direktur Utama RS Mata Cicendo Antonia Kartika, Rabu (19/3) di Kantor Gubernur Sumut. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemprov Sumut meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan setelah sebelumnya fokus memperluas akses masyarakat terhadap layanan dasar.
Program ini tidak hanya bersifat seremonial. RS Mata Cicendo telah memulai tahap pertama peningkatan pengetahuan dasar dan teori secara virtual. Rencananya, besok akan digelar workshop bagi dokter mata dari 49 rumah sakit di Sumatera Utara, yang dilanjutkan dengan pendampingan operasi katarak sehari setelahnya.
"Kami melakukan pengampuan untuk menurunkan angka tersebut, terutama pada penyakit penyebab kebutaan, seperti katarak, diabetik retinopati, glukoma, dan lainnya," kata Kartika.
Menurut data yang disampaikan RS Mata Cicendo, prevalensi kebutaan di Indonesia masih sekitar tiga persen. Angka ini tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah. Dengan adanya jejaring pengampuan, penanganan penyakit penyebab kebutaan di Sumut diharapkan bisa lebih masif dan terstandar.
Bobby Nasution menekankan bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan dilakukan melalui pembenahan fasilitas kesehatan hingga penguatan kapasitas layanan rumah sakit. "Hari ini (nota kesepahaman) bagian pengoptimalan layanan rumah sakit, khususnya rumah sakit mata milik Provinsi Sumut," ujarnya.
RS Mata Cicendo yang diresmikan pada 3 Januari 1909 dengan nama Koningen Wilhemina Gathuis voor Ooglijders merupakan pusat mata nasional yang menjadi rujukan pelayanan kesehatan mata di Indonesia. Kini, rumah sakit bersejarah itu akan menjadi mitra strategis bagi Pemprov Sumut untuk memperbaiki kualitas SDM tenaga kesehatan mata di daerah.
Kerja sama ini mencakup pelatihan bagi dokter dan perawat mata, serta pendampingan langsung saat operasi. Langkah ini dinilai efektif untuk mentransfer pengetahuan dan teknologi dari pusat ke daerah, tanpa harus merujuk pasien jauh-jauh ke Bandung.
Program telah dimulai dengan tahap pelatihan virtual. Workshop tatap muka dan pendampingan operasi katarak dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Dengan adanya jejaring pengampuan ini, warga Sumut yang membutuhkan penanganan katarak dan penyakit mata lainnya diharapkan bisa mendapatkan layanan lebih cepat dan berkualitas di rumah sakit setempat.
Bobby Nasution menambahkan, setelah memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan di awal masa jabatannya, kini fokus pemerintah bergeser pada peningkatan kualitas. "Salah satu program prioritas di bidang kesehatan pertama kali kami capai bagaimana masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan. Hari ini setelah masyarakat mendapat layanan kesehatan, kami coba meningkatkan kualitas layanannya," katanya.