MEDAN — Sejumlah perubahan regulasi besar akan mewarnai gelaran Piala Dunia 2026 mendatang. Tujuh aturan baru disiapkan, mulai dari perluasan wewenang VAR hingga sanksi tegas bagi pemain yang dinilai membuang-buang waktu.
Sistem Video Assistant Referee (VAR) tidak lagi sekadar meninjau gol, penalti, atau kartu merah langsung. Dalam aturan terbaru, VAR diberi wewenang lebih luas untuk meninjau keputusan-keputusan lain yang sebelumnya dianggap sebagai "kesalahan jelas dan nyata" oleh wasit di lapangan.
Perubahan ini membuat peran wasit video semakin dominan. Setiap keputusan kontroversial berpotensi ditinjau ulang, termasuk pelanggaran yang luput dari pandangan wasit utama.
Salah satu aturan yang diprediksi paling menghebohkan adalah sanksi bagi pemain yang menutup mulut saat berdebat dengan wasit. Tindakan ini dianggap sebagai bentuk protes tidak sportif dan bisa berujung pada kartu merah langsung.
Aturan ini dirancang untuk menekan aksi pemain yang mencoba menyembunyikan kata-kata kasar atau protes berlebihan dari kamera televisi. Wasit kini memiliki dasar jelas untuk memberikan hukuman maksimal terhadap perilaku tersebut.
Regulasi soal pergantian pemain juga mengalami penyesuaian. Meski detail teknis belum dirilis secara keseluruhan, aturan baru ini bertujuan mempercepat jalannya pertandingan dan mengurangi waktu yang terbuang.
Selain itu, aksi buang-buang waktu yang dilakukan penjaga gawang atau pemain bertahan akan mendapat perhatian lebih ketat. Wasit diberi wewenang untuk memberikan kartu kuning lebih cepat jika pemain dinilai sengaja memperlambat permainan.
Belum ada kepastian kapan tepatnya aturan-aturan ini akan disosialisasikan secara resmi ke seluruh asosiasi sepak bola nasional, termasuk di Indonesia. Namun, publik sepak bola sudah mulai berspekulasi tentang dampaknya terhadap gaya bermain tim-tim peserta Piala Dunia 2026.