SUMATERA UTARA — “Presiden Prabowo Subianto, terima kasih banyak,” ucap Steinmeier di hadapan Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Senin (15/6/2026). Ucapan singkat berbahasa Indonesia itu menjadi pembuka pertemuan yang membahas peta kemitraan strategis di tengah situasi dunia yang menurut Steinmeier “sangat sulit”.
Steinmeier mengaku sudah empat kali menginjakkan kaki di Indonesia. Sebagian kunjungan itu dilakukan saat ia masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Jerman. “Jumlah kunjungan ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan dengan Indonesia bagi kami di Jerman,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra non-Eropa yang masuk dalam prioritas utama kebijakan luar negeri Berlin. Dalam konteks diplomasi, intensitas kunjungan kepala negara Jerman ke Jakarta tergolong tinggi dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Pertemuan dua kepala negara ini tidak berlangsung dalam suasana normal. Steinmeier secara eksplisit menyebut situasi dunia yang “terguncang oleh kekerasan” di banyak kawasan. Ia merinci perang di Eropa, ketegangan di Asia Tengah, serta konflik yang belum terselesaikan di Sudan.
“Di Eropa sedang ada perang demikian juga di tengah, di Asia Tengah. Dan konflik-konflik yang tetap berlangsung termasuk di Sudan dan Jerman yang belum terselesaikan,” kata Steinmeier di samping Prabowo dalam pernyataan resmi yang disiarkan dari Istana Merdeka.
Dalam kerangka itu, Steinmeier menekankan bahwa kemitraan antara Jerman dan Indonesia memiliki bobot lebih dari sekadar hubungan dagang biasa. “Ini merupakan kemitraan antara kedua negara yang saling berkomitmen untuk dasar aturan yang tetap,” imbuhnya.
Steinmeier mengungkapkan alasan “berat” di balik kunjungannya kali ini. Ia tidak merinci agenda konkret seperti nota kesepahaman atau investasi, tetapi lebih menekankan pada peran Indonesia sebagai negara dengan bobot geopolitik yang diakui Jerman. “Pokok saya kembali berkunjung ke sini ada alasan yang berat. Di dalam situasi di mana dunia terguncang oleh kekerasan di banyak kawasan dunia yang makin meningkat,” ujarnya.
Pernyataan itu mengindikasikan bahwa Jerman melihat Indonesia sebagai jembatan diplomatik di kawasan Indo-Pasifik yang kerap disebut-sebut dalam strategi luar negeri Berlin beberapa tahun terakhir. Pertemuan ini juga menjadi ajang konsolidasi posisi kedua negara menjelang berbagai forum multilateral yang akan datang.
Tak ada pernyataan resmi dari Presiden Prabowo soal isi pembicaraan tertutup dalam pertemuan itu. Namun, gestur Steinmeier yang memilih membuka dialog dengan bahasa Indonesia menunjukkan adanya kedekatan personal yang sengaja dibangun di atas hubungan institusional kedua negara.