TAPANULI UTARA — Pucuk pimpinan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) angkat bicara soal status kepemilikan Rumah Sakit Umum (RSU) Tarutung. Ephorus HKBP Pdt Dr Victor Tinambunan MST menyatakan bahwa rumah sakit tersebut memiliki keterkaitan historis yang mendalam dengan pelayanan kesehatan yang diwariskan oleh Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), badan zending asal Jerman, kepada HKBP.
Victor menjelaskan bahwa HKBP menyimpan sejumlah dokumen yang menjadi dasar historis atas klaim tersebut. Dokumen-dokumen itu mencakup catatan penyerahan rumah sakit dari RMG kepada HKBP, serta dokumen penyerahan dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Kesehatan pada tahun 1954.
“Dalam proses penyerahan tersebut, termasuk Rumah Sakit HKBP Balige yang hingga saat ini tetap berada dalam pengelolaan HKBP,” tulis Victor dalam rilis yang diterima redaksi.
Selain arsip internal, HKBP juga merujuk pada catatan sejarah yang tersimpan di perpustakaan Vereinte Evangelische Mission (VEM) di Jerman. Catatan itu, menurut Victor, memuat jejak sejarah keberadaan RSU Tarutung sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang sebelumnya dikelola RMG dan kemudian dilanjutkan HKBP.
Bagi HKBP, persoalan ini lebih dari sekadar sengketa aset. Victor menegaskan bahwa RSU Tarutung merupakan bagian dari sejarah pelayanan kasih yang mencerminkan pengabdian panjang di bidang kesehatan dan kemanusiaan.
“Rumah sakit ini merupakan warisan pelayanan yang telah dibangun melalui pengorbanan, dedikasi, dan pengabdian panjang HKBP bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun golongan,” ujarnya.
Victor juga menyoroti nota kesepahaman awal antara Pimpinan HKBP, Ketua Komite Aset HKBP, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, dan DPRD setempat pada 11 Februari 2016. Menurutnya, MoU itu memperkuat posisi historis HKBP atas rumah sakit tersebut.
Ephorus menegaskan komitmen HKBP untuk terus memperjuangkan status kepemilikan dan pengelolaan RSU Tarutung melalui mekanisme hukum yang berlaku di Indonesia. Upaya ini, katanya, merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan warisan pelayanan yang telah dibangun lintas generasi.
“Dengan menghargai sejarah dan berdasarkan bukti-bukti yang ada, HKBP berharap seluruh pihak dapat bersama-sama melihat persoalan ini secara jernih, mengedepankan kebenaran, keadilan, serta penghormatan terhadap nilai pelayanan yang telah diwariskan,” tutup Victor.