SUMATERA UTARA — Bob Iger, yang baru saja resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai CEO Disney untuk kedua kalinya, kembali menjadi sorotan. Dalam wawancara eksklusif dengan Financial Times, ia membuka tabir soal salah satu peluang besar yang sempat ia perjuangkan: menggabungkan Disney dengan Apple.
Menurut Iger, ide merger ini sempat dibahas secara internal di Disney dan bahkan ada komunikasi awal dengan pihak Apple. Namun, pembicaraan tersebut tidak pernah mencapai tahap serius. "Kami membicarakannya secara internal, dan kami sempat berbincang dengan Apple tentang hal itu, tapi tidak pernah berlanjut ke mana-mana," ujar Iger dalam wawancara tersebut.
Ketika ditanya penyebabnya, Iger hanya menjawab singkat: "Apple tidak menunjukkan minat yang cukup besar."
Dalam memoarnya, Iger sebelumnya pernah menuliskan keyakinannya bahwa Disney dan Apple bisa saja bersatu jika Steve Jobs masih hidup. Jobs, yang merupakan pendiri Apple sekaligus pemegang saham terbesar Disney setelah akuisisi Pixar, dianggap sebagai jembatan alami antara kedua raksasa tersebut.
Namun, wawancara terbaru ini mengonfirmasi bahwa upaya Iger untuk mendekati Apple juga terjadi di era pasca-Jobs. Hasilnya tetap sama: Apple tidak tertarik.
Bagi Apple, merger senilai miliaran dolar dengan Disney mungkin dianggap tidak sejalan dengan fokus bisnis inti mereka. Apalagi, Apple saat ini tengah gencar mengembangkan layanan streaming Apple TV+ yang secara langsung bersaing dengan Disney+.
Iger dikenal sebagai arsitek di balik kesuksesan akuisisi Disney atas Pixar, Marvel, dan Lucasfilm. Tiga langkah ini terbukti menjadi tambang emas bagi Disney. Namun, tidak semua rencana akuisisinya berjalan mulus.
Selain gagal dengan Apple, Iger juga mengaku sempat hampir mengakuisisi Twitter. Kesepakatan itu batal setelah ia khawatir platform media sosial tersebut akan menjadi gangguan besar bagi fokus bisnis Disney.
Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan untuk perusahaan sekelas Disney, tidak semua mimpi besar bisa terwujud. Apalagi ketika berhadapan dengan Apple yang terkenal selektif dan mandiri dalam mengambil keputusan strategis.
Bagi penggemar teknologi dan konten, wacana merger ini memang menarik untuk dibayangkan: perangkat Apple yang dipenuhi konten Disney secara eksklusif. Namun, kenyataannya, konsumen harus puas dengan kerja sama yang sudah ada, seperti integrasi Disney+ di Apple TV.