SUMATERA UTARA — Meta tidak lagi hanya mengandalkan iklan untuk menghasilkan uang. Perusahaan induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram ini dikabarkan sedang membangun bisnis cloud sendiri yang akan menyewakan kekuatan komputasi pusat datanya ke perusahaan lain, terutama untuk kebutuhan pelatihan dan pengoperasian model AI. Langkah ini diungkapkan oleh Bloomberg berdasarkan sumber internal yang mengetahui rencana tersebut.
Menurut laporan tersebut, bisnis cloud Meta nantinya akan menawarkan setidaknya dua jenis layanan. Pertama, menjual akses ke model AI yang sudah berjalan di infrastruktur Meta. Kedua, menyewakan daya komputasi pusat data untuk perusahaan yang ingin melatih model AI mereka sendiri dari awal.
Model bisnis ini mirip dengan apa yang dilakukan Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud. Bedanya, Meta baru akan memulai dari posisi yang sangat berbeda: mereka selama ini adalah pelanggan infrastruktur cloud, bukan penyedianya.
Rencana ini bukan isapan jempol belaka. Meta sudah berkomitmen menggelontorkan dana sebesar 600 miliar dolar AS (sekitar Rp 9.900 triliun) untuk investasi di Amerika Serikat hingga tahun 2028, sebagian besar dialokasikan untuk infrastruktur AI. Perusahaan juga telah merekrut sejumlah ahli mahal untuk membangun tim AI superintelligence-nya.
Dengan kata lain, Meta sudah memiliki pusat data raksasa dan ribuan chip canggih. Bisnis cloud ini menjadi cara untuk mengembalikan sebagian dari investasi raksasa tersebut, alih-alih membiarkan kapasitas komputasi menganggur.
Divisi yang bertanggung jawab menggarap proyek ini adalah Meta Compute. Unit yang dibentuk pada Januari 2025 ini fokus pada pengelolaan pusat data dan inisiatif AI. Bloomberg melaporkan tim ini saat ini sedang dalam tahap pengembangan layanan cloud tersebut.
Engadget, yang pertama kali melaporkan ulang kabar ini, sudah menghubungi Meta untuk meminta konfirmasi lebih lanjut mengenai detail rencana pusat data mereka. Hingga berita ini diturunkan, Meta belum memberikan tanggapan resmi.
Bagi pengguna biasa di Indonesia, langkah ini mungkin tidak langsung terasa. Saat ini, Meta masih memberikan akses gratis ke model AI-nya, termasuk Muse Spark, bagi siapa pun yang menggunakan aplikasi Facebook, WhatsApp, Instagram, atau aplikasi Meta AI mandiri.
Model berlangganan hanya diperlukan untuk meningkatkan batas generasi gambar dan mengakses fitur penalaran yang lebih canggih. Ke depannya, model AI anyar Meta juga akan diintegrasikan ke perangkat wearable seperti Meta Glasses yang baru saja diumumkan, serta agen AI yang bisa mengurus tugas personal dan profesional atas nama pengguna.
Jika bisnis cloud ini benar-benar berjalan, Meta tidak hanya akan bersaing dengan Amazon dan Google, tetapi juga dengan SpaceX yang baru-baru ini merambah layanan cloud. Persaingan penyedia infrastruktur AI diprediksi akan semakin ketat dalam dua hingga tiga tahun ke depan.