MEDAN — Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengumumkan bahwa inflasi year-on-year Juni 2026 sebesar 4,79 persen merupakan kenaikan IHK dari 108,08 pada Juni 2025 menjadi 113,26 pada Juni 2026. Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat 0,23 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 0,90 persen. “Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebelas indeks kelompok pengeluaran,” ujar Asim di Medan, Rabu (1/7/2026).
Data BPS menunjukkan disparitas inflasi antarwilayah di Sumatera Utara cukup lebar. Kota Gunungsitoli mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,25 persen dengan IHK 115,71, jauh di atas rata-rata provinsi. Sebaliknya, Kabupaten Karo menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 4,46 persen dengan IHK 112,84. Perbedaan ini mencerminkan variasi tekanan harga komoditas di masing-masing daerah.
BPS merinci bahwa seluruh sebelas kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau melonjak 7,57 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik paling tinggi, yakni 9,55 persen. Kelompok transportasi juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 4,75 persen, sementara kelompok perumahan hanya naik 0,75 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y, antara lain: emas perhiasan sebesar 0,53 persen; cabai merah sebesar 0,41 persen; bensin sebesar 0,18 persen; beras dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,17 persen,” papar Asim. Ikan tongkol, tomat, dan minyak goreng masing-masing menyumbang 0,16 persen, sementara angkutan udara dan beberapa jenis ikan menyumbang 0,14 persen.
Secara bulanan, kenaikan harga terutama dipicu oleh bensin yang menyumbang 0,14 persen, serta bawang putih dan angkutan udara yang masing-masing memberikan andil 0,08 persen. Cabai merah dan cabai rawit turut menyumbang 0,05 persen. Sebaliknya, tomat menjadi komoditas penekan inflasi bulanan terbesar dengan sumbangan deflasi 0,17 persen, diikuti daging ayam ras sebesar 0,07 persen.
BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga secara tahunan. Detergen cair, popok bayi sekali pakai, daging babi, dan ketimun masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,02 persen. Sementara itu, kangkung, kentang, kemeja panjang katun pria, kacang panjang, dan sabun cair cuci piring memberikan andil deflasi 0,01 persen. Data ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih terkonsentrasi pada bahan pangan dan energi, sementara beberapa barang kebutuhan lainnya justru mengalami penurunan harga.