SUMATERA UTARA — Pencapaian itu tidak berhenti di angka tahunan. Memasuki triwulan I 2026, BRI mencatat laba bersih Rp15,5 triliun, naik 13,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kredit yang disalurkan pun ikut melesat 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga bertumbuh 9,4 persen secara tahunan ke posisi Rp1.555 triliun. Angka-angka ini menegaskan bahwa fundamental bisnis BRI tetap solid, meskipun suku bunga global masih bergejolak dan daya beli domestik belum sepenuhnya pulih.
BRI tidak hanya mengejar laba. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sudah mencapai Rp84,36 triliun, setara 46,87 persen dari target tahun 2026. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar, sejalan dengan mandat BRI sebagai bank yang menggerakkan ekonomi kerakyatan. Di sisi lain, Kredit Pemilikan Properti (KPP) yang disalurkan mencapai Rp9,5 triliun untuk 68.212 debitur—menjadikan BRI sebagai bank dengan penyaluran KPP terbesar di Indonesia.
Untuk menjaga daya saing jangka panjang, BRI mempercepat transformasi digital lewat program BRIVolution Reignite. Rebranding dengan identitas “Satu Bank untuk Semua” menjadi fondasi strategi ini. Langkah tersebut mencakup digitalisasi layanan, inovasi produk, dan pengembangan model bisnis baru. Hingga saat ini, BRI telah mengembangkan 5.245 Desa BRILiaN, melayani 15,6 juta pengguna LinkUMKM, serta membina lebih dari 43 ribu klaster usaha di berbagai daerah. Entitas anak BRI Group juga berkontribusi signifikan, menyumbang 25,1 persen terhadap laba konsolidasian.
Semua capaian ini memperkuat posisi BRI bukan sekadar bank penyalur kredit, melainkan penggerak utama ekonomi kerakyatan. Di bawah tekanan efisiensi dari Danantara, BRI justru membuktikan bahwa profitabilitas dan misi sosial bisa berjalan beriringan.