MEDAN — Lembaga Penggerak Ekonomi Umat MUI Sumut menggelar Focus Group Discussion (FGD) Bisnis Pesantren di Aula Gedung BSI Region II Medan, Jalan Kejaksaan. Kegiatan ini menyasar satu persoalan klasik: bagaimana pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat kemandirian ekonomi.
Ketua Umum DP MUI Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, menyebut sebagian besar pesantren di Sumut sudah memiliki unit-unit usaha yang lahir dari kebutuhan santri sehari-hari. Namun, potensi itu belum dikelola secara profesional.
“Pesantren memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Dengan pengelolaan yang baik, unit-unit usaha pesantren bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi umat yang mandiri,” ujarnya dalam sambutan.
Maratua juga mendorong pesantren segera bertransformasi ke sistem digital, termasuk pembayaran non-tunai lewat telepon genggam. Menurutnya, teknologi menjadi syarat mutlak agar usaha pesantren bisa bersaing.
FGD ini menghadirkan tiga narasumber. Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut Wishnu Badrawani, Ph.D. memaparkan strategi BI dalam mendukung UMKM pesantren. Perwakilan BSI menyampaikan prospek pembiayaan syariah untuk unit usaha ponpes. Sementara praktisi bisnis Bobby Umroh, Ph.D. menekankan pentingnya daya tahan usaha.
“Untuk membangun bisnis yang berkelanjutan, kuncinya adalah kemampuan bertahan. Salah satu faktor utama yang menentukan keberlangsungan usaha adalah pemanfaatan teknologi, karena teknologi mampu meningkatkan efektivitas kerja, kualitas produk, sekaligus memperkuat daya saing,” kata Bobby.
Ketua Panitia Dr. Salman Nasution, S.E.I., M.A. menegaskan forum ini tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Pihaknya menargetkan lahirnya model bisnis yang komprehensif, mulai dari tata kelola usaha, literasi keuangan, mitigasi risiko, hingga akses pembiayaan.
“Gagasan yang lahir dalam forum ini diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi dapat diimplementasikan menjadi program nyata yang mampu memperkuat kapasitas usaha pesantren,” ujarnya.
Menurut Salman, MUI Sumut melalui Lembaga Penggerak Ekonomi Umat akan menjadi motor kolaborasi antara pesantren, perbankan, dan pemerintah.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ilmi Murni Medan, Dr. H. Dedi Masri, Lc., M.A., mengapresiasi inisiatif ini. Ia menilai pesantren memiliki modal besar berupa lahan, sumber daya manusia, dan ribuan santri yang bisa menjadi konsumen pertama produk usaha mereka.
Bobby Umroh menambahkan, selain lahan untuk pertanian dan peternakan, pesantren juga bisa mengembangkan usaha produksi berbasis komoditas lokal. Kuncinya, kata dia, ada pada kemampuan pesantren membangun jejaring ekonomi yang kuat.