Rupiah Ambles 0,63% ke Rp18.128 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Kembali Panaskan Permintaan Dolar

Penulis: Hendrizal Satria  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 10:38:01 WIB
Rupiah melemah 0,63% ke Rp18.128 per dolar AS seiring meningkatnya permintaan dolar akibat konflik AS-Iran.

SUMATERA UTARA — Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS yang didorong oleh eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyebut meningkatnya tensi AS-Iran menjadi pemicu utama perburuan dolar hari ini.

"Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven setelah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran," ujarnya di Jakarta.

Harga Minyak dan Suku Bunga The Fed Jadi Beban Tambahan

Tekanan terhadap rupiah tidak datang dari satu sisi. Kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ke kisaran 74 dolar AS per barel turut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kekhawatiran inflasi global yang kembali meningkat membuat investor enggan melepas dolar.

Pelaku pasar saat ini juga menanti rilis data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS yang akan menjadi petunjuk baru soal arah kebijakan moneter The Fed. Jika data menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih ketat, tekanan terhadap mata uang emerging market seperti rupiah berpotensi berlanjut.

Cadangan Devisa Naik, Tapi Tak Cukup Jadi Tameng

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih menunjukkan ketahanan. Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, naik dari 144,9 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini memperkuat kemampuan Bank Indonesia dalam mengintervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Kenaikan tersebut memperkuat kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketidakpastian global," ungkap Amru.

Inflasi domestik yang terkendali dan komitmen BI melalui bauran kebijakan moneter juga menjadi faktor penopang. Namun, dalam jangka pendek, sentimen global tetap menjadi penentu utama pergerakan rupiah.

JISDOR Ikut Terkoreksi, Pelaku Usaha Wajib Waspada

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke level Rp18.090 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp18.005 per dolar AS. Pelemahan ini mengindikasikan tekanan merata di seluruh segmen pasar valas.

Bagi importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar, situasi ini berarti biaya impor dan cicilan utang akan membengkak. Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Investasi mengandung risiko. Pergerakan rupiah diperkirakan masih akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS dalam beberapa pekan ke depan dibandingkan faktor domestik.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: koran-jakarta.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top