MEDAN — Kritik terhadap penyelenggaraan PRSU 2026 terus menguat. Kali ini, Rudi Alfahri dari Fraksi PAN menyoroti ketiadaan data resmi jumlah pengunjung harian yang hingga pekan terakhir tak kunjung dirilis panitia.
“Kalau memang pengunjungnya banyak, kenapa datanya tidak dibuka? Kalau mereka kasih data yang besar, nanti bertolak belakang dengan kondisi di lapangan yang terlihat sepi. Kalau datanya sedikit, berarti mereka mengakui memang pengunjung minim,” ujar Rudi, Kamis (23/7/2026).
Menurut Rudi, konten yang diunggah panitia di media sosial maupun rilis resmi lebih banyak menggambarkan kesuksesan acara. Ia menilai narasi tersebut tidak sesuai dengan fakta yang terlihat langsung di lokasi.
“Postingan-postingan mereka maupun rilis-rilis yang diberikan kepada kita, kalau dibilang ya semuanya berita bagus. Katanya UMKM meningkat, pengunjung ramai, berbagai kegiatan sukses. Tapi ternyata apa yang mereka sampaikan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan,” tegasnya.
Rudi menyebut, dokumentasi yang beredar di media sosial justru menunjukkan area pameran masih lengang meski acara sudah berlangsung 20 hari.
Politisi PAN itu mendesak panitia berani mengakui kesalahan kebijakan, terutama soal harga tiket masuk yang dinilai terlalu mahal. Ia meminta panitia segera menurunkan harga dan menggencarkan promosi masif.
“Akui saja kesalahan-kesalahan mereka. Turunkan harga tiket, lakukan kembali promosi yang masif agar masyarakat benar-benar datang ke PRSU. Jangan terus bertahan dengan harga tiket yang mahal,” katanya.
Dampak paling besar, menurut Rudi, dirasakan para pelaku UMKM yang sudah mengeluarkan modal besar untuk menyewa stan. “Kasihan UMKM yang ada di dalam. Mereka sudah mengeluarkan dana yang besar, berinvestasi untuk berjualan di sana, tetapi masyarakat tidak bisa masuk karena harga tiket cukup mahal,” ujarnya.
Rudi juga mengkritik sikap panitia yang disebutnya tidak mau menerima masukan. Ia meminta Gubernur Sumatera Utara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelola PRSU, termasuk jajaran direksi dan komisaris.
“Intinya evaluasi secara menyeluruh. Evaluasi direktur-direkturnya bersama komisarisnya. Masa mereka tidak bisa menghadirkan inovasi untuk kemajuan PRSU? Kalau tidak ada perubahan dan tidak mampu memberikan terobosan, lalu apa yang sebenarnya mereka kerjakan?” tegas Rudi.
Ia berharap evaluasi dilakukan objektif agar PRSU ke depan benar-benar menjadi ajang promosi ekonomi daerah yang mampu menarik masyarakat dan meningkatkan transaksi.