IHSG Anjlok 1,88% Tiga Hari Beruntun, Analis Ungkap Proyeksi Pekan Depan dan Rekomendasi Saham untuk Investor Sumut

Penulis: Hendrizal Satria  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:54:01 WIB

MEDAN — IHSG terperosok ke level 6.196,43 pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026), mencatatkan pelemahan tiga hari beruntun. Seluruh sektor saham kompak terkoreksi, dengan sektor barang konsumer non-primer menjadi yang terparah minus 3,04%. Tekanan jual ini disebut analis sebagai efek domino dari koreksi tajam di bursa Amerika Serikat, di mana saham teknologi seperti Alphabet turun 7% dan Tesla melemah 14%.

Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyebut tren ini memperkuat sikap wait and see investor global. "Kenaikan harga minyak mentah dunia juga ikut memperberat sentimen pasar, karena memicu kekhawatiran inflasi yang bisa menunda pemangkasan suku bunga," ujarnya dalam riset yang diterima redaksi, Jumat (24/7/2026).

Rebound IHSG Masih Rentan, Simak Level Support dan Resistance

Meski secara mingguan IHSG masih mencatat penguatan tipis 0,34%, Wafi mengingatkan bahwa rebound yang sempat terjadi belum kokoh. Ia memproyeksikan level support IHSG berada di kisaran 5.950, sementara resistance utama di level 6.471. Artinya, potensi koreksi lanjutan masih terbuka lebar jika sentimen eksternal tidak membaik. "Arah pergerakan pasar sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global dan kondisi geopolitik ke depan," tambahnya.

Bagi investor di Sumatera Utara, volatilitas ini menuntut kehati-hatian. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor ritel di Sumut terus bertambah, terutama dari kalangan milenial yang mulai melirik saham-saham blue chip. Namun, koreksi tiga hari ini bisa menggerus portofolio jika tidak disertai strategi diversifikasi yang tepat.

Apa Rekomendasi Saham untuk Investor Sumut?

Di tengah tekanan, Wafi menyarankan investor fokus pada sektor yang masih mendapat angin segar dari kenaikan harga komoditas. Saham energi dan pertambangan dinilai menarik, dengan beberapa emiten yang patut dicermati antara lain PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA). Kedua saham ini diproyeksi masih berpotensi menguat seiring lonjakan harga minyak dan batu bara global.

Selain itu, saham perbankan dengan rasio Current Account Saving Account (CASA) tinggi juga direkomendasikan sebagai instrumen jangka panjang. Emiten seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dinilai masih solid meski pasar sedang bergejolak. "Investor jangka panjang di Sumut bisa memanfaatkan koreksi ini untuk akumulasi bertahap," kata Wafi.

Pelajaran dari Koreksi Tiga Hari: Jangan Panik, Pilih Sektor Tahan Banting

Koreksi IHSG yang terjadi secara beruntun mengingatkan pentingnya strategi alokasi aset. Bagi investor di Sumatera Utara, tidak ada kata terlambat untuk mengevaluasi portofolio. Sebagai gambaran, jika saham teknologi global masih bergejolak, sektor energi dan komoditas bisa menjadi buffer karena terkait langsung dengan kebutuhan riil dan harga internasional yang masih tinggi.

Wafi menekankan, investor tidak perlu panik menjual aset di tengah tekanan. "Kami tetap merekomendasikan hold untuk saham-saham berfundamental kuat, dan hanya cut loss jika emiten menunjukkan sinyal fundamental negatif," pungkasnya. Dengan proyeksi support di 5.950, masih ada ruang untuk rebound jika sentimen global berbalik positif pekan depan.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: digtara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top