SUMATERA UTARA — Presiden dan CEO Toyota Motor, Kon Kenta, secara terbuka menepis kekhawatiran bahwa robot akan menggusur tenaga kerja manusia di lini produksi. Menurutnya, ada sejumlah keterampilan yang memang tidak bisa diajarkan kepada mesin, sehingga sentuhan manusia tetap menjadi fondasi utama proses manufaktur. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan NHK World, Sabtu (25/7).
"Ada kemampuan yang tidak bisa digantikan robot. Namun ada juga kemampuan yang bisa diajarkan kepada robot. AI bahkan mungkin dapat mengajarkan keterampilan tersebut kepada manusia maupun robot," ujar Kon. Ia menegaskan bahwa nilai utama Toyota tetap lahir dari lini produksi, bukan dari mesin otomatis.
Pabrikan asal Jepang itu tengah merancang fasilitas baru di Toyota City, Prefektur Aichi. Pabrik ini akan menggabungkan robot dan AI dalam proses produksi, tetapi tujuannya justru meningkatkan kontribusi pekerja, bukan menggantikan mereka. Kon berjanji akan terus mendengarkan masukan dari para pekerja di lapangan dan menerapkan filosofi kaizen — perbaikan berkelanjutan — untuk meningkatkan efisiensi.
Selain mengandalkan AI, Toyota juga menyederhanakan jumlah komponen yang digunakan pada mobil-mobilnya. Langkah ini dirancang agar proses pengembangan dan produksi lebih efisien, sekaligus mengurangi kebutuhan ruang penyimpanan di pabrik. Kon menegaskan prinsip dasar sistem produksi Toyota sejak awal adalah memangkas biaya dengan mengurangi persediaan dan memaksimalkan efisiensi ruang.
"Titik dasar sistem produksi Toyota adalah memangkas biaya dengan mengurangi persediaan dan ruang yang dibutuhkan untuk penyimpanan. Kami terus membangun inisiatif dasar tersebut," katanya. Menurut Kon, pendekatan ini akan tetap menjadi fondasi perusahaan di tengah era otomasi dan kecerdasan buatan.
Dengan strategi ini, Toyota ingin membuktikan bahwa teknologi dan manusia bisa berjalan beriringan. Pekerja pabrik tidak perlu khawatir kehilangan pekerjaan — justru mereka akan dibekali keterampilan baru agar bisa bekerja lebih produktif bersama robot dan AI.